Ada kalanya mentari terlalu terik untuk menyinari pagi, saat hati dipenuhi duri tajam tentang kenang yang perih berih..
Ada kalanya senja terlalu cepat tiba, saat malam terasa lebih lama dari sekedar menghela nafas..
Aku pernah mengenalnya lebih dari siapapun, mencintainya lebih dari cukup, mengejarnya lebih dari berlari mengejar mimpi..
Mencintai adalah takdir, menikahi adalah nasib.. sesimple itu, namun tidak semudah menerima realita yang datang secara tak terduga..
Sialan.. Seanjing ini kesakitan yang kurasa.. seperih ini terpisah didunia yang sama..
Tentangmu yang datang secara tiba - tiba, dan pergi semena - mena.. anijng memang.. dan sisa yang kupunya dari masa yang pernah disebut "kita" hanyalah luka, luka yang bebal, tak kunjung hilang ditelan masa..
Aku pernah bercerita padamu tentang mimpi yang kini menjadi nyata, tentang aku yang tersudut diujung gelap dengan sisa lilin dengan pendar cahaya yang hampir redup, dan kamu yang pergi tanpa menoleh sesekali..
Dan yang paling kubenci adalah takdir yang kulihat sebelum terjadi, dan tak ada jalan untuk merubahnya..
Hoon, sesingkat inikah cerita antara kamu dan aku, yang pernahenjadi kita ?
Tentang kamu yang menghapus Nun, dan pergi tanpa pamit ataupun bertatap muka.. arrrgghhh hampa dan luka saja yang kau titipkan, hampa karena cinta yang terlunta - lunta, luka baru yang kamu buat setelah kamu obati luka lamaku..
Kuharap kau cepat bersuaka, dan aku yang moksa menjadi satu denganmu di swargaloka.
Sabtu, 01 Desember 2018
Sabtu, 06 Mei 2017
01052017
Pagi itu, pagi yang menggigil untuk memulai semangat juang yang membara. Dan sialnya dipagi yang sama, firasatku teramat buruk, entah itu tentang aksi yang akan kulakukan hari ini atau tentang entah.
Aku juga temanku meluncur menuju taman fleksi atau sekarang dinamakan taman radio. Tak ada kesialan apapun selama perjalanan, hanya saja mentari hangat tak mempengaruhi kehampaan pagi ini. Dan terlebih gigil hatiku semakin menusuk rusuk, pengap.
Ah taman fleksi, masa mudaku dulu yang penuh kenangan. Tentang mabuk dari senja hingga fajar, tentang pertemuan dengan kawan yang sama busuknya denganku. Tentang tawa yang menopengi luka dan tentang kawan yang menjelma keluarga.
Hari ini, hari kemerdekaan untuk buruh sedunia, seharusnya. Tapi tidak semua perayaan dirayakan semua orang, ada sebagian yang lebih nyaman menganggap semua hari adalah hari yang sama.
Seperti halnya aku sendiri, siang adalah perjuangan dan malam adalah kehangatan bersama kawan di hari apapun itu. Di usia berapapun kini aku, layaknya sama saja sedari aku sadar akan kehidupanku. Yang membedakannya adalah momen yang kelak menjadi kenang, yang kelak akan akan menjadi cambuk ketika aku dimabuk dunia.
Hari ini lebih brutal dari hari kemarin, banyak perselisihan, pertentangan, emosi yang meledak, teriakan lantang yang menantang, jerit tangis yang mewujud menjadi semangat juang. Dan juga dihari ini bukan hanya malam yang memburu siangku, beberapa aparat yang tak terima pos penjagaannya kami rusakpun memburu kami layaknya elang yang memburu mangsanya dengan mata tajamnya itu.
Apa boleh buat, aku harus menunggu malam untuk dapat pulang kerumah. Disertai degup dada yang kencang, seolah setan dunia membayangiku di setiap perempatan dan stopan rambu jalanan.
Lega rasanya ketika aku sampai dirumah, namun masih ada gigil rindu yang menusuk rusuk. Firasat, hal baik atau buruk apa yang akan menimpa garis waktuku sekarang ? Lalu isenglah aku membuka akun istagramku yang beberapa lama ini tak aku kunjungi jua. Dan sialnya ketika aku membuka DM, entah ini kabar baik atau buruk. Kau, hawa yang selalu kurindu kini dalam beberapa hari akan menjumpai palaminan. Pria yang tak sering kau ceritakan meminangmu, sosok yang mungkin memang adammu. Kini aku benar" merasa sebagai nubuat busuk, yang abai pada khutuk. Aku memang tidak mencintaimu sedalam dulu, namun dikedalaman kalbuku, namamu masih saja terukir disana. Layaknya aku menorehkanmu di hati batuku, karena sangat teringat olehku, bahwa aku yang beku kaku dalam perihal percintaan mampu dilelehkan olehmu. Mungkin karena kesabaranmu, dan bodohnya aku adalah karena aku terlalu memanjai egoku. Terlalu cemburu oleh pria itu dulu. Dan aku tak mampu mengungkap sesal ataupun menyampaikan keinginanku yang teramat ingin kembali bersamamu.
Kini kawanku malam ini adalah marah, takut, gigil, perih, sesal, kesal... dan juga rindu.
Meski kini aku tengah menyayangi wanita lainnya, tapi aku tak ingin bohong. Bahwa aku masih mencintaimu dan rindu padamu. Dan saat terakhir kita bertemu, aku tak juga sempat mengungkapkan isi hatiku padamu. Lebih tepatnya aku terlalu takut kau campakan, atau mungkin aku terlalu takut sisa cinta ini hilang karena kecewa atas penolakanmu.
Ah sudahlah, biar kunikmati malam ini. Dan mungkin untuk menghabiskan sisa rasaku padamu, karena aku tak mau menyimpan perasaan pada wanita yang sudah dimiliki pria lain.
Semoga aku sanggup hadir nanti dipelaminanmu dengannya, untuk terakhir kalinya menjabat tanganmu dan memandang parasmu dari dekat. Selamat untukmu. Semoga pernikahanmu menjadi barokah dalam kesucian suatu hubungan.
Semoga engkau membacanya dan curahan hatiku ini tak menjadi hal yang menghalangi rencanamu dengannya karena aku hanya ingin mengungkap semuanya tanpa bicara. Karena aku tak pandai berlisan, hanya bisa mengungkapnya melalui tulisan.
Senin, 06 Februari 2017
Rukh, aku dan peranan kita
Kau tahu rukh.. Sepertinya aku mencintainya lebih dari aku mencintai diriku, meski aku faham bahwa ini akan menjadi kutukan bagiku tapi tak ada dayaku untuk menghentikan laju perasaanku ini.. Apakah kau baik baik saja setelah menyaksikan kenyataan pahit yang harus kita nikmati.?
"Ya kau sendiri merasakan nyeri sesak didada, nyeri yang sama untuk kali ini.. Dan lubang ini lebih besar dari sebelumnya, mungkin karena ketololanmu yang terlalu berharap lebih.."
Aku tahu itu, aku hanya berharap lebih atau menimbun lebih banyak harapan untuknya, aku tak meminta lebih karena seperti apapun dia, dulu ataupun kini, aku selalu merasa hangat saat didekatnya meski itu hanya ilusiku saja.. Ya kehangatan yang mungkin akan kurindukan, dan selamat datang hari hari yang dingin..
"Apa kau ingat, bila kau dan aku terluka secara bersamaan maka nafs takkan bertahan lama.? dan kau akan kehilangan keberadaanmu.."
Untuk sekarang mungkin itu bukan masalah untukku, dan akupun berkata kepada diri agar mempererat hubungannya dengan yang maha diri.. Walaupun aku kehilangan keberadaanku maka yang akan menyumbangkan air mata untukku hanya sahabatku saja mungkin..
"Tapi kau sadar masih ada getaran perasaan yang kuat yang lain mungkin akan sangat tidak merelakan itu.?"
Ya itu takkan lama, sudah kuperjelas bahwa manusia sejatinya hanya hilir mudik didunia ini.. Untuk perihal surga dan neraka, kaupun tahu sendiri itu tercatat dengan jelas didalam kitab kering itu bahwa semua akan merasakan pedihnya api tanpa terkecuali mereka yang membeli tiket khusus sekalipun.. Kita hanya bisa berperan sebaik mungkin, dan ini batas maksimalku..
"Kau bicara terlalu jauh, aku mulai mengkhawatirkan kepribadianmu.. Dan akankah kau memudar.?"
Mungkin yang akan memudar satu satunya adalah kau rukh, untuk diriku mungkin hanya penglihatanku yang memudar tidak dengan tubuhku yang lainnya.. Dan saatku benar benar memudar, maka aku akan memilih untuk terbakar habis..
"Maka kita harus lebih sering bercumbu dengan waktu, setidaknya kita memanfaatkannya sebaik mungkin untuk peranan kita.."
Ya, kupikir begitu seharusnya..
Selembaran Yang Merindukan Kita
Bisingnya suara musik yang kita mainkan disaat kita berkumpul bersama dalam gigs yang kecil yang membesarkan kita tak menyanggupi untuk menyampaikan insureksi yang hendak disampaikan.. Bagaimana tidak bila arti melawan hanya menjadi khiasan dalam sederetan lirik yang mengkritik saja, karena setiap kata menagih realita untuk dapati makna.
Teringat pertengahan july 2007 silam, dalam sebuah gigs dikota kembang ini beberapa orang dengan kostum hardcore punk membagikan selembaran - selembaran yang isinya provokatif dan menguak kebusukan - kebusukan aparat dan pejabat juga berisikan tentang apa itu anarki, anarkis dan anarkisme..
Selembaran yang menjadi senjata untuk diri kita melawan ketidak adilan, kebusukan pemerintahan negara dan koorporasi yang mencetak setiap kepala menjadi si dungu pecandu hedonisme, ya benar benar selembaran yang dirindukan setiap kepalan..
Semakin tahun berlalu semakin komersil pula gigs yang diselenggarakan, berbalik arah menjadi gigs mainstream yang disponsori berbagai produk koorporasi.. Gigs kecil yang memberi semangat perlawanan dan rasa kebersamaan perlahan sulit dijumpai untuk beberapa tahun sebelum 2012 menjelang, hanya pamflet pamflet gigs ug mainstream yang terpampang didinding jalanan, dengan tema acara yang masih sama sebelum terjamah mainstream namun pada hakikatnya sangatlah busuk..
Hingga 2013 awal ada beberapa zine dan newslatter yang menggugahku untuk kembali menginsureksikan warisan yang kupendam, karena sesuatu yang korup dan menyengsarakan haruslah dilawan, faktanya setiap jiwa menagih tindakan dalam keadaan terdiskriminasi..
Namun tetap saja antusias dalam perihal selembaran itu tak serupa dulu, orang - orang lebih suka melihat selembaran iklan diskon harga dan fhasion kekinian ketimbang informasi tentang keadaan negaranya sendiri, terasa memuakan namun itu tidaklah harus menjadi alasan untuk berhenti berbagi informasi dijalanan..
Mungkin dengan media internet hal hal berbagi informasi serupa dulu bisa dilakukan, namun ingat bahwa dijalanan adalah tempat kita bertarung dan melawan yang sejatinya dengan keringat juga darah yang kita korbankan. Dan kenapa kita harus mendengar racauan mereka yang mencandui hal - hal instan bila kita sadar betul bahwa hal itu hanya akan mengikis kreatifitas dan daya ataupun gaya hidup kita..
Kita harus tetap berdiri meski anak negeri tengah dikebiri tirani, kita harus tetap berlari dari buaian produk koorporasi. Tak perlu berharap panjang umur kamerad, cukup lakukan tugasmu selagi masih ada umur..
Kemuakan Di Senja Kemarin
Langit jingga di ufuk barat mengisaratkan gelap siap melahap langit..
Kabar buruk mengharuskanku pulang menengok keadaan dirumah, pamanku sakit parah dan kritis katanya. Mau atau tak mau tak ada alasan untuk tak datang bila keadaan buruk yang bicara.
Ada atmosfir kesedihan ketika aku tiba di depan pintu, atmosfir yang memuakan, dan membuatku enggan untuk masuk kedalam. Tapi kelihatannya tak ada seorangpun didalam rumah, teramat sepi.
Aku masuk dan memastikan karena memang rumahku tak pernah dikunci. Hanya ada ibu didalam rumah, dia diam dan menatap atap. Salamku tak dihiraukannya, bahkan untuk menengokku pun tidak sama sekali.
"Apa yang terjadi pada paman, bu.?" tanyaku sembari duduk dan menikmati segelas air segar
"Dia terjatuh shubuh tadi, dan sekarang tengah dirawat diruang ICU karena tak juga sadarkan diri.." jawabnya dengan mata yang berkaca - kaca. " Pergilah menongoknya, selagi dia masih ada kemungkinan hidup.." lanjutnya.
Ada sedikit kekesalan didadaku, karena dia tak bertanya dimana aku selama ini dan apa saja yang kulalukan. Tapi dalam keadaan seperti ini, hal itu tak begitu penting untuk dibahas.
"Iya bu, nanti seusai aku mandi aku ke RS menengok paman.." jawabku setelah beberapa saat.
Seusai mandi aku berangkat ke RS dan kulihat paman masih tak sadarkan diri, aku tak berlama lama hanya menaruh buah - buahan yang kubawa lekas kembali ke rumah.
Sesampainya dirumah, kulihat ayah yang tengah menonton tv dan menikmati kepulan asap rokok yang dihisapnya. Malas bila aku harus masuk, tapi aku harus mengambil tas dan pakaianku dan langsung pergi. Ketika hendak masuk kamar ayah memanggilku, dengan terpaksa aku menghampiri.
"Dari mana saja kamu selama ini.? Masih ingat punya rumah hah.?" tanya nya dengan nada setengah marah.
"Yang jelas aku belajar hidup mandiri, dimana aku tinggal bukankah itu tak penting. Dan asal ayah tau, ini rumah ibu bukan milikmu." jawabku kesal.
"Tau apa kau tentang rumah, dan mandiri tai kucing. Jangan buatku malu dengan tinggal dirumah orang dan meminta makan pada mereka." kalimat yang menyambar warasku.
"Aku bisa cari makan sendiri, dan asal ayah tau aku tak mau menyusahkan orang lain bahkan orang tuaku juga.. Dan bila ayah malu memilikiku sebagai anak, maka kenapa tak lekas pergi serupa tahun - tahun lalu. Ibu dan aku bisa hidup tanpa ayah." aku tak bisa memendung amarahku lagi.
Tinjuan keras mendarat diwajahku, sakit memang tapi tak ada keinginan untuk membalas.
"Anjing, jangan karena kau sudah besar.. Sudah berani melawan ayahmu, anak sialan.." makinya dengan mulut bau nikotine yang khas.
"Aku bicara jujur, dan itu kenyataannya. Lebih baik ayah tinggal dengan si jalang itu, aku tak butuh kehadiran ayah. Sudah cukup kesakitan aku dan ibu, aku sudah kenyang diabaikan sebagai anakmu. 4 tahun bukan waktu yang sebentar bagiku untuk membiayai hidupku dan menyaksikan jatuhan air mata ibu.. Aku sudah kenyang dengan kesakitan ini yah, dan aku pergi karena aku tak siap untuk memaafkan, tak siap untuk kembali bersama dengan kedatangan ayah uang mendadak ini.. Karena waktu - waktu yang kubutuhkan untuk kehadiran ayah telah berlalu.." air mataku tak bisa kubendung. Si tua bangka tak lagi angkat bicara, dia diam dan memalingkan pandangannya. Disudut kamar aku mendengar tangisan, tangisan ibu yang tak mau keluar melerai pertengkaranku. Suasana yanh memuakan, aku segera kekamarku dan berkemas. Sesaat sebelun aku keluar rumah ibuku bicara dari balik pintu. "Jangan sampai diantara kalian berdua ada yang menyesal pada waktunya tiba.." . Dan aku lekas menancab gas dan pergi kembali ketempat yang menurutku adalah 'rumah'
Sebuah kalimat yang diucapkan ibu adalah kalimat yang membayang didalam tempurung kepalaku, membuatku enggan untuk tidur malam ini.
Kemarin adala senja yang memuakan. Ya.. Kemuakan yang sialan.. Anjing..
Jumat, 16 Desember 2016
Catatan Syam untuk Nun di lembah Haruman
Malam itu ada beban yang begitu berat, mencekram dada kiriku dengan hebat.
Menari - nari dengan liar bersama firasat.
Terlalu sesak mimpi itu, Nun.
Aku melangkah bertolak arah denganmu, aku yang digenggam sunyi, dan engkau bergandengan dengan sosok seorang lelaki.
Aku melaju menuju sudut pekat yang dingin, sembari dingin merajam sanubari.
Aku menjelma gagak Dewa Odin yang melihatmu dalam sudut yang tak kau ketahui, tak kau sadari.
Namun entah kenapa, engkau menjadi objek yang begitu menarik batinku. Sampai aku enggan berpindah dahan untuk sekedar bertengger.
Kau tahu, Nun ? Itu adalah mimpi terburuk yang pernah ku alami. Lebih dahsyat dari sambaran petir di tengah terik matahari.
Semakin lama aku semakin mengarat, disudut kesunyian.
Entah dosa apa yang membuatku terkutuk menjadi pungguk.
Di lempar ke dalam jurang sunyi yang tak ada dasarnya.
Yang aku tahu bahwa apa yang kulakukan terlalu awal, terlalu mendahului waktu. Menyalahi garis takdir.
Ohh Nun, sungguh malam ini aku ingjnkan langit menurunkan hujan. Agar aku bisa menyamar dibawah jejatuhannya, agar aku bisa menyamarkan gigil rindu yang menggebu.
Nun, maafkan aku yang terlalu naif. Menyepelekan hal - hal kecil yang melukiskan senyum manis di bibirmu. Semoga engkau tetap dalam berkah semesta. Dan garis lengkung di bibirmu tetap terjaga dalam perasaan yang bahagia.
Aku yang menyayangimu dalam gigil rindu, Syam.
Sabtu, 03 Desember 2016
Dari Mullar untuk Gadis Fantastis
Matahari tak begitu menyengat hari ini.
Namun ada yang begitu hebat mengguncangku, menghantam dada kiriku, membunuh asaku.
Ialah kala aku tahu bahwa bahwa firasatku tak pernah salah.
Tentangmu yang pernah kudamba.
Tentang waktu yang tak bisa ku putar ulang.
Seperti kata pepatah "terburu - buru adalah tindakan orang - orang bodoh".
Aku terlalu cepat melepas rasa kasihku untukmu.
Membiarkannya terombang - ambing diruang yang entah.
Keraguan yang begitu bernafsu mengikis keyakinanku, kini bermutasi menjadi palung - palung sesal di kedalaman hatiku.
Aku sungguh mencintamu dulu, tanpa ragu tanpa ambigu.
Kenyataan yang pahit bagiku adalah merasa dirugikan dikala engkau dilanda sunyi sepi dikesendirianmu itu.
Penebusan dosa mana yang bisa membasuh kesalahanku.? Di depan altar.? Di atas pusara masa lalu.? Atau dikekecewaanmu yang dengan gagah membuatku merasa kecil.
Maafkan aku yang dungu ini, mengklaim salah benar tanpa bertanya terlebih dahulu.
Kasih, sungguh aku memcintamu seadanya.
Menyayangimu setulus kasih sayang itu sendiri.
Semoga garis waktu menjawab semuanya, tentangmu, tentangku, tentang kita yang terpisah oleh parit yang aku rakit.
Namun ada yang begitu hebat mengguncangku, menghantam dada kiriku, membunuh asaku.
Ialah kala aku tahu bahwa bahwa firasatku tak pernah salah.
Tentangmu yang pernah kudamba.
Tentang waktu yang tak bisa ku putar ulang.
Seperti kata pepatah "terburu - buru adalah tindakan orang - orang bodoh".
Aku terlalu cepat melepas rasa kasihku untukmu.
Membiarkannya terombang - ambing diruang yang entah.
Keraguan yang begitu bernafsu mengikis keyakinanku, kini bermutasi menjadi palung - palung sesal di kedalaman hatiku.
Aku sungguh mencintamu dulu, tanpa ragu tanpa ambigu.
Kenyataan yang pahit bagiku adalah merasa dirugikan dikala engkau dilanda sunyi sepi dikesendirianmu itu.
Penebusan dosa mana yang bisa membasuh kesalahanku.? Di depan altar.? Di atas pusara masa lalu.? Atau dikekecewaanmu yang dengan gagah membuatku merasa kecil.
Maafkan aku yang dungu ini, mengklaim salah benar tanpa bertanya terlebih dahulu.
Kasih, sungguh aku memcintamu seadanya.
Menyayangimu setulus kasih sayang itu sendiri.
Semoga garis waktu menjawab semuanya, tentangmu, tentangku, tentang kita yang terpisah oleh parit yang aku rakit.
Rabu, 24 Agustus 2016
Catatan Kecil Untuk Kawan - Kawan Perrpustakaan Jalanan
Masih teringat beberapa tahun yang lalu saya melihat sekerumunan orang di sekitaran Taman Cikapayang, tepatnya didepan hurup D. Karena penasaran singkat cerita saya bertanya kesana kemari dan tahulah saya bahwa kerumunan pemuda itu adalah komunitas perpustakaan jalanan. Unik memang, perpustakaan yang seringkali kita bayangkan adalah sebuah gedung atau ruangan yang dipenuhi buku yang tersusun rapih pada raknya, namun ini berbeda. Buku disana digelar di atas matras, dengan banyak varian. Dipinjamkan dengan cuma - cuma layaknya oksigen, gratis. Saya berbincang disana bersama seorang pemuda berkacamata, namanya Fajar dan juga Ehenk. Fajar seorang mahasiswa semester akhir disebuah universitas ternama di bandung. Dia menjelaskan bahwa tidak ada niatan apapun dalam mendirikan perpustakaan jalanan, sekedar mengisi waktu luang terutama dimalam minggu agar waktu luang yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin. Dan ternyata tidak semua yang berperan diperpustakaan jalanan bertempat tinggal didaerah yang sama, rumah dari seorang kawan ke kawan lainnya terbilang lumayan jauh jaraknya.
Berawal dari itu setiap akhir pekan saya selalu hadir di acara "ngelapak" bareng perpustakaan untuk sekedar membaca buku, berbagi pengalaman, secangkir kopi dan tembakau. Kami berbagi oksigen disana, didepan hurup D. Secara tidak langsung saya merasa bahwa semua orang yang berkawan di perpustakaan jalanan adalah kakak saya, adik saya, keluarga baru saya.
Bagaimana tidak, solidaritas yang begitu kental, persahabatan tanpa iming - iming gengsi. Setelah berbagi banyak hal membuat saya terpicu untuk tidak "meng-oranglain-kan" kawan - kawan diperpustakaan jalanan.
Tereramat sering kami di usir oleh polisi atau petugas ketika kami masih asik "ngelapak" ditaman, tepatnya bila waktu telah menunjukan pukul 12 malam lewat. Jam malam diberlakukan waktu itu dibandung, karena sebuah kasus pembunuhan dan perampokan telah terjadi di sekitaran Jalan Layang Pasopati. Kami yang merasa hak kami telah dicuri membuat newslater, postering dan aksi vandal sebagai bentuk penolakan terhadap adanya jam malam. Karena akhir pekanlah waktu luang yang kami punya untuk berkumpul bersama, jelas itu karena dihari lain beberapa dari kami ada yang sibuk bekerja, sekolah ataupun kuliah.
Tidak pernah ada kekerasan memang ketika para aparat memaksa kami untuk membubarkan diri, tapi kami menolak bubar sebelum kami rasa cukup. Dan sayapun berpikir membaca, berkumpul bersama kawan, saling berbagi bukanlah tindakan kriminal ataupun hal buruk, jadi kenapa kami harus berpisah ditengah silaturahmi yang kami pererat dimalam itu.? Maka dari itu saya tidak takut untuk terus melangsungkan kegiatan bersama kawan - kawan perpustakaan jalanan.
Bersama mereka saya belajar apa arti solidaritas, hak asasi, memanusiakan manusia dan banyak hal lainnya. Sering pula mereka mengajak saya untuk turun kejalan, menyuarakan kebenaran, menuntut keadilan dan aksi sosial lainnya.
Dan sering pula kami menyelenggarakan bakti sosial untuk membantu sesama yang dilanda bencana atau penggusuran.
Meski pada akhirnya garis takdir mengharuskan saya untuk sulit berkumpul kembali bersama mereka, walaupun demikian tidaklah saya melupakan kawan - kawan disana.
Hingga kemarin, sabtu 20 agustus 2016 terdengar berita bahwa kawan - kawan perpustakaan jalanan dibubarkan dengan paksa oleh aparat militer. Bahkan 3 orang diantaranya dipukuli oleh aparat, dan juga cara penyampaian aparat kepada kawan - kawan perpustakaan jalanan untuk membubarkan diri sangatlah kasar dan tak patut diucapkan. Suatu pukulan telak didada saya mendengar itu, teriris rasanya karena saya hanya bisa berbela sungkawa.
Terlebih isu yang beredar menyusul, dibeberapa media dikatakan bahwa perpustakaan jalanan adalah kedok geng motor untuk berkumpul.? Sangat bodoh dan konyol. Pemerintah mencurigai rakyatnya sendiri.? Terlebih kegiatan yang dilakukan adalah bentuk positif kreatifitas pemuda bangsa ini, apakah pantas dibenarkan kecurigaan itu ? Konyol memang.
Teruntuk kawan Perpustakaan Jalanan "Tetaplah semangat sahabat, jangan mengalah pada aparat. Kalian sosok hebat yang membangunkanku dari gengsi, kebodohan dan ketidakmanusiaanku yang lainnya. Kalian yang mengajariku arti hidup itu indah ketika kita berbagi. Panjang umur kamerad, jangan hiraukan lalat - lalat pasar yang menggerogoti jaman, jangan takut akan gonggongan anjing - anjing tiran, lawan otot dengan otak. Semesta memberkati kalian."
Sabtu, 03 Januari 2015
Majas #2
Alhamdulillah…Puji Syukur kepada Tuhan YME, Majas Zine kembali hadir untuk bisa kita baca dan maknai sebagai wadah apresiasi dan ekspresi kita pada segala isu dalam wujud karya sastra seperti puisi, prosa, cerpen, dan lain-lain. Pada edisi kedua ini, Majas Zine tampil dalam konten yang lebih variatif dari edisi yang perdana. Masih dengan keterbatasan yang ada, kami berusaha sebisa mungkin untuk tampil lebih segar dan membaharu, berkat bantuan tenaga dan pikiran beberapa teman, juga kontribusi dari teman-teman semua.
Pada edisi kedua ini, kami mengangkat tema gambar Perempuan dan Bayangan yang di tangan kanannya menggenggam hati, sementara di tangan lainnya, menggenggam belati (karya: Dadan Marjoko), yang bisa diartikan “Bahwa musuh sejati kita adalah diri kita sendiri”, atau kita bisa mengartikan lain sebagaimana pikiran kita menerjemahkannya dalam bentuk karya sastra, baik itu puisi, cerpen, dan sebagainya. Majas Zine #2 ini juga menampilkan Biografi Tokoh Sastra, dan yang kami tampilkan kali ini adalah W.S. Rendra.
Majas Zine juga membuat program apresiasi yang bersifat tidak mengikat, bagi teman-teman yang menjadi Kontributor aktif untuk Majas Zine. Kami memberikan dua buah buku gratis plus copy Majas Zine pertiga edisi pada dua orang Kontributor yang beruntung. Kami merasa perlu membuat program apresiasi ini, sebagai wujud lain terima kasih kami atas keberkenanan teman-teman membantu terwujudnya Majas Zine ini.
Demikian sekapursirih kami. Semoga kita semua, siapa saja, saat apa saja, di mana saja, kapan saja, dan bagaimana saja, senantiasa dalam lindungan Tuhan YME. Aamiin…
Akhir kata; Karena Kata adalah Senjata. Karena Menulis adalah Keberanian.
Salam Majas,
Download Majas Zine Disini
Pada edisi kedua ini, kami mengangkat tema gambar Perempuan dan Bayangan yang di tangan kanannya menggenggam hati, sementara di tangan lainnya, menggenggam belati (karya: Dadan Marjoko), yang bisa diartikan “Bahwa musuh sejati kita adalah diri kita sendiri”, atau kita bisa mengartikan lain sebagaimana pikiran kita menerjemahkannya dalam bentuk karya sastra, baik itu puisi, cerpen, dan sebagainya. Majas Zine #2 ini juga menampilkan Biografi Tokoh Sastra, dan yang kami tampilkan kali ini adalah W.S. Rendra.
Majas Zine juga membuat program apresiasi yang bersifat tidak mengikat, bagi teman-teman yang menjadi Kontributor aktif untuk Majas Zine. Kami memberikan dua buah buku gratis plus copy Majas Zine pertiga edisi pada dua orang Kontributor yang beruntung. Kami merasa perlu membuat program apresiasi ini, sebagai wujud lain terima kasih kami atas keberkenanan teman-teman membantu terwujudnya Majas Zine ini.
Demikian sekapursirih kami. Semoga kita semua, siapa saja, saat apa saja, di mana saja, kapan saja, dan bagaimana saja, senantiasa dalam lindungan Tuhan YME. Aamiin…
Akhir kata; Karena Kata adalah Senjata. Karena Menulis adalah Keberanian.
Salam Majas,
Download Majas Zine Disini
INDONESIA KECIL ITU ADA DI SOLO
INDONESIA KECIL ITU ADA DI SOLO.
Manggala :
Bukan suatu kebetulan dan rentetan rekayasa,
peristiwa-pertiwa yang terjadi yang saya tulis ini.
Semoga tulisan ini tidak dimasukan ke dalam
persoalan mainstream, yaitu persoalan antara Joko Wi dan Prabowo
Tapi satu persoalan dari banyak persoalan yang ada di Indonesia.
Sanggar Teater RUANG.
Lemi, saudara kemanusiaanku!#1
Seperti layaknya pohon yang baru tumbuh,
Daun-daun hijau rindang
Bunga-bunga indah mekar
Buah-buah bermunculan segar.
Tahun 1995 teater RUANG waktu itu
Sanggup mendirikan sebuah sanggar
Di lahan kosong pereng Tanggul Danukusuman Solo
Bukan karena bantuan pemerintah
Tapi karena uang tabungan kami sendiri
Karena jerih keringat kami sendiri.
Seorang pemuda kampung
Bisa keliling dunia dan bergaji tinggi
Gara-gara teater RUANG ada di kampung Danukusuman Solo ini. #2
Seorang anak kampung
Berkesempatan jadi bintang film
Memerankan sebagai Joko Wi kecil
Gara-gara sanggar teater RUANG di dekat rumahnya. #3
Seorang mahasiswa menjadi aktor teater nasional gara-gara belajar tekun di sanggar teater RUANG. #4
Seorang mahasiswa swasta
Berhasil mengembangkan usahanya
Menjadi contoh pengusaha muda se Indonesia
Gara-gara belajar berdisiplin dan berdikari di sanggar teater RUANG Ini. #5
Bahkan seorang anak kampung
Bisa menjadi dokter karena memang bertolak dari kebaikan sanggar teater RUANG di kampungnya. #6
Sungguh sebuah pohon yang bermanfaat....
Orang-orang kampung selalu meminjam barang-barang yang diperlukan ke tempat sanggar dengan gratis.
Jika ada orang berkesusahan
Orang-orang kampung meminta bantuan untuk meringankan kesusahan itu ke sanggar teater RUANG.
Juga anak-anak jika kesulitan tugas sekolahnya mereka lari minta bantuan ke sanggar teater RUANG.
Sanggar menjadi pohon yang rindang
Berbunga indah dan berbuah segar, Lemi!
Buah haru yang membikin bergetar hatiku
Setelah 19 tahun bersanggar di kampung Danukusuman ini adalah:
Ketika seorang anak bernama Risky
Menyodorkan sebuah naskah tulisan tangannya sendiri kepada saya
Meski hanya naskah sederhana
Bercerita tentang keinginannya bercocok tanam
Tapi logika dialognya sungguh runtut dan membikin saya terkejut.
Anak seusia 9 tahun kelas 4 Sekolah Dasar
Belum fasih menulis, tapi mampu membuat naskah lakon!
Padahal saya baru bisa menulis naskah lakon ketika tahun 1990 waktu mahasiswa seusia 24 tahun.
Keberadaan sanggar mampu mempercepat kreatifitas seseorang.
Inilah buah haru yang mengharu biru hatiku!
Joko Wi dengan Joko Bibit
Lemi, saudara kemanusiaanku!
Masih ingat kau memilih saya dan teater RUANG untuk datang ke Welllington di New Zeland
dan mengundang Joko Wi Walikota Solo waktu itu untuk bertemu dengan Walikotamu?
Sekarang Walikota itu sudah jadi orang nomor satu di negeri ini,
dan saya bersama teater RUANG tetap menjadi orang pinggiran yang lewat kesenian dan kebudayaan membangun ruang kesadaran anak-anak menyalurkan kreatifitas berekpresinya
Agar anak-anak itu tidak mengekspresikan kemarahannya pada perkelahian, pada umpatan-umpatan kotor meniru sinetron televisi,
Atau agar tidak menyalurkan ekspresinya dengan bermain playstasion dan bermain di mall dari uang hasil mencuri di rumah sendiri atau rumah tetangganya,
agar mereka tidak menyalurkan kreatifitas berekspresinya lewat mabuk-mabukan minuman keras atau obat-obat terlarang.
Tidak!
Lewat teater mereka bisa mementaskan bagaimana mereka mengekspresikan kemarahannya menjadi itikad baik berkaitan mencintai tetumbuhan, mahkluk hidup lain, tentang kerukunan, persaudaraan dan sebagainya!
Yah, saya tetap memilih menjadi orang pinggiran seperti itu!
Seperti pilihan saya ketika menolak undanganmu untuk bersama Joko Wi menjadi delegasi Indonesia bekerja sama dengan negaramu!
Dan kini baru terbukti kebenaran alasan penolakan saya waktu itu!
Dari dulu saya tahu,
bahwa seorang Joko Wi, seorang walikota, seorang pejabat, bahkan ketika menjadi presidenpun selalu dan selalu memandang kesenian atau kebudayaan hanyalah sebagai pembarangan saja....aset saja!
Seorang seperti Joko Wi pasti akan lebih berpihak
pada Festival-Festival Besar dengan biaya besar dengan sendirinya!
Dia jelas tidak mungkin mau tahu atau mau disusahkan untuk tahu
meski berbiaya besar dan mengatas namakan kesenian dan kebudayaan,
tapi apa yang diterima si pelaku kesenian dan kebudayaan itu begitu kecil dan tak sebanding dengan jerih keringatnya dan tak sebanding dengan biaya besar festivalnya!
Seorang seperti Joko Bibit selalu tahu ketidak beresan itu di dalam realita kesenian dan kebudayaan masyarakat semacam itu!
Yah!
Seorang seperti Joko Wi jelas tidak mungkin bluksukan
Malam-malam ke kampung-kampung ke desa-desa
Mengikuti kelompok-kelompok kesenian akar rumput
Yang berlatih hingga tengah malam buta
Dengan kemiskinan yang ada
Tapi tetap semangat mempertahankan akar kebudayaan dan kesenian yang ada
Meski selalu dan selalu sekarat bahkan mati digerus keadaan!
Seorang seperti Joko Wi jelas pasti sudah merasa menghargai ketika bisa mengundang mereka dengan biaya tak sebanding dengan jerih payahnya!
Seorang seperti Joko Bibit selalu disadarkan oleh keterlibatan dengan mereka hingga tengah malam buta dan tak pernah merasa bisa menghargai dengan bentuk penghormatan apapun apalagi hanya berupa nilai materi/rupiah...saja.
Karena proses mereka, semangat mereka, daya bertahan mereka atas kebengisan keadaan yang menggerus akar kebudayaan dan kesenian mereka, sebenarnya tak bisa dinilai sebatas angka-angka!
Seorang Joko Bibit sadar akan itu dan seorang seperti Joko Wi tak pernah berusaha menyadari persoalan seperti itu!
Kesadaran seorang seperti Joko Wi adalah kesadaran aset, kesadaran pasar, kesadaran merebut secepatnya kesempatan untuk bertahan hidup.
Sebab itulah saya menolak untuk menjadi Delegasi Indonesia bersama Joko Wi waktu itu,
dan gara-gara penolakan itu kamu yang menjadi Ketua Panitya Acara Kerja Sama antar New Zeland dengan Indonesia, maka kamu bersama kelompok dan keluargamu harus rela diusir dari ibukota Wellington!
Lalu satu tahun kemudian, kamu ingin membuktikan apa benar keputusan yang kamu ambil bertolak dari penolakan saya waktu itu, dengan bertandang langsung ke sanggar Teater RUANG di Solo!
Hanya cukup 2 hari kamu ke sini, dan ketika melihat sanggar Teater RUANG dengan mata kepala sendiri, kamu nyatakan dengan ketetapan hati , bahwa kamu mau jadi “brother theatre’ dengan saya dan teater RUANG.
Seorang seperti kamu Lemi, dengan penuh kesadaran rela datang ke sanggar Teater RUANG hanya untuk menetapkan hati menjadi ‘saudara kemanusiaan’ dengan saya dan teater RUANG.
Seorang seperti Joko Wi tidak mungkin melakukan hal seperti itu, bahkan ketika menjabat Walikota Solo dua kali tak pernah sekalipun bertandang ke Teater RUANG, (padahal Solo hanyalah kota kecil), apalagi sekarang sudah menjadi presiden Indonesia! Tak mungkin itu terjadi jika tidak menjadi hal yang besar yang menguntungkan dirinya!
Itulah yang membedakan antara Joko Wi dengan Joko Bibit dan kamu Lemi!
Logika Berbalik.
Lemi, saudara kemanusiaanku!
Saya tak mampu menerjemahkan lagi bahasa Tuhan yang dibahasakan kepada saya dan kelompok Teater RUANG Surakarta.
Saya dirundung kecamuk tak berkesudahan, kerna logika penalaran tak pernah bisa menyentuh ruang kesadaran kemanusiaan masyarakat dan aparatur pemerintahan di negara saya.
Mereka lebih suka yang praktis dan yang menguntungkan saja, sesuatu proses dan sesuatu yang tidak lagi menguntungkan secara langsung rasanya menjadi keharusan yang harus ditinggalkan atau bahkan ditiadakan dalam realita kehidupan mereka.
Dulu saya dan kelompok teater RUANG sering mementaskan orang-orang yang digusur dan dihabisi!
Tapi sekarang saya dan teater RUANG mengalaminya sendiri!
Dan ternyata jauh-jauh sekali dari apa yang selama ini kita interpretasikan!
Jauh-jauh sekali menyakitkan!
Jauh-jauh sekali menyedihkan!
Bagaimana tidak jauh-jauh sekali menyakitkan...jauh-jauh sekali menyedihkan?
Bukan lantaran bangunannya yang harus diruntuhkan...
Bukan lantaran tempatnya yang harus diperbaiki....
bangunan dan tempat hanya wujud benda materi saja
tapi proses panjang, sejarah, fakta, peristiwa-peristiwa, kenangan, jerih payah, adalah sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka seperti materi....
ia melekat pada jiwa...melekat pada rasa...melekat pada hati
dan tiba-tiba harus digusur dan dihilangkan tanpa pertimbangan dan kebijakan yang matang atas nilai yang tidak bisa dinilai dengan angka itu...
Andai orang-orang yang menggusur dan menghabisi itu merasakan realita yang kami alami, apakah sebengis itu tindakan perlakuan yang akan diperbuat?
Agaknya televisi dan koran adalah alat yang paling canggih mematikan daya empati orang-orang itu, karena realita penggusuran dan pembantaian sering kali ditayangkan dengan jelas dan gamblang ...karena seringnya melihat seperti itu, maka peristiwa yang sebenarnya yang jauh-jauh menyakitkan...yang jauh-jauh menyedihkan itu jadi kurang menyakitkan dan menyedihkan lagi!
Orang-orang butuh peristiwa yang lebih bengis lagi rupanya!
Lemi, saudara kemanusiaanku!
Apakah tindakan semacam itu dibenarkan oleh kemanusiaan dimanapun berada?
Diskriminasi dan Intimidasi semu!
Awalnya anak-anak mereka sendiri dilarang bermain ke sanggar teater RUANG.
Bak seperti tempat yang menyebarkan penyakit atau membuat anak-anak mereka menjadi penjahat keji jika pulang dari tempat sanggar kami.
Bak menjadi tempat yang diharamkan secara sosial!
Tapi masih saja ada anak-anak yang tetap mau bermain bahkan berlatih teater di sanggar teater RUANG...
Pun membuat mereka lebih agresif
Lalu dengan mendekati anak-anak itu menghasut agar tidak bermain atau berlatih di sanggar teater RUANG.
Beberapa anak terpengaruh...beberapa anak tetap nekat bermain dan berlatih teater di sanggar!
Kenyataan itu membuat mereka lebih agresif lagi
lalu mempengaruhi orang tuanya agar tidak memperbolehkan anaknya bermain dan berlatih teater di sanggar teater RUANG.
Beberapa orang tua melarang anaknya...tinggal beberapa yang membiarkan anaknya tetap bermain dan berlatih teater di sanggar!
Hal itu semakin membikin emosi mereka!
Puncaknya salah satu dari mereka emosinal seperti orang kesurupan,
Hingga sampai memaki-maki seorang anak yang nekat bermain dan berlatih di sanggar, dengan alasan mencuri buah manggannya...umpatan kasar dan ancaman terlontar untuk Ridho anak umur 7 tahun. Padahal anak yang berbuat sudah lari pulang ke rumahnya.
Ah!
Pantaskah perlakuan semacam itu ditujukan ke anak-anak hanya gara-gara mereka ingin bermain dan berlatih di sanggar Teater RUANG?
Banyak sekali hal tidak pantas yang seharusnya dipertanyakan, tapi jelas akan menghabiskan ruangan untuk menuliskannya!
Kaum Oportunis
Orang-orang yang dulunya menyanjung-nyanjung keberadaan sanggar teater RUANG.
Bersikap ramah ketika mereka memerlukan kegiatan kesenian untuk lomba desa, untuk basar-basar dan acara-acara budaya di tingkat desa dan kota.
Wajah-wajah yang penuh senyum penuh ramah tamah ketika meminta sumbangan, ketika meminta bantuan ke sanggar.
Seketika bisa berubah dratis menjadi wajah-wajah serius dan tegas.
Seketika bisa berubah drastis menjadi wajah-wajah kemarahan dan mengintimidasi.
Ketika melihat sesuatu sudah layak menjadi korban. Ketika melihat sesuatu bisa dijadikan obyek atau proyek yang menguntungkan. Ketika melihat sesuatu menjadi minoritas yang tak memiliki massa dan kekuatan seperti mereka. Ketika melihat sesuatu menjadi lemah dan tengah lengah.
Terkam dan binasakan!
Wajah-wajah yang menunjukan batang hidung belangnya ketika melihat si obyek yaitu sanggar teater RUANG sudah saatnya dikorbankan!
Wajah-wajah orang-orang seperti ini selalu bisa meraup keuntungan dari semua peristiwa dengan dalih dan segala upaya memutar balikan fakta, bersembunyi dibalik trend-trend, slogan-slogan, jargon-jargon yang tengah hangat di masyarakat dan zamannya.
Dengan dalih atas nama masyarakat banyak yang sudah tidak suka dengan sanggar, karena kumuh, karena menjadi tempat membolos anak-anak, menjadi tempat mabuk-mabuk dan tempat mesum seperti dituduhkan masyarakat, seperti yang diberitakan koran-koran, maka sanggar teater RUANG pantas untuk dibersikan diratakan dengan tanah untuk diganti dengan bangunan baru, bangunan terbuka hijau. Seperti yang dicanangkan sebagai program pemerintah.
Nyatalah sekarang, Lemi saudara kemanusiaanku!
Jadi yang selama ini kejadian-kejadian diskriminasi dan intimidasi terhadap sanggar Teater RUANG ujung ceritanya memang harus digusur dan diratakan tanah!
Itikadnya bahwa sanggar Teater RUANG adalah peluang menjadi proyek yang menguntungkan bagi wajah-wajah orang-orang seperti itu! Kaum oportunis!
Perbuatan keji seperti itu, cara-cara tak manusiawi seperti itu, apakah seorang seperti Joko Wi mengetahui dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi?
Apakah seorang seperti Joko Wi menyadari nasib buruk yang menimpa kebudayaan akar rumput seperti kami, sebetulnya bertolak dari perbuatan tak senonoh oleh orang-orang oportunis semacam itu?
Apakah seorang seperti Joko Wi menyadari bahwa kelompok kesenian dan kebudayaan akar rumput bisa dengan mudah ditunggangi selalu untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya yang tak mudah terendus oleh KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) sebagai cara-cara korupsi melalui event-event besar festival dan kegiatan budaya?
Apakah seorang seperti Joko Wi mengerti begitu julik dan pintarnya mereka kaum oportunis itu memutar balikkan fakta menjadikan sanggar Teater RUANG menjadi korban dan obyek proyekan baru yang bisa menguntungkan mereka?
Seorang seperti Joko Wi adalah Walikota, Gubernur dan Presiden, penanggung jawab dan penentu keadaan di manapun tempat di Indonesia berada. Tak semestinya tinggal diam atas perbuatan-perbuatan kaum oportunis yang seperti itu di manapun tempat di wilayah Indonesia.
Dan Indonesia kecil itu ada di Solo!
Di mana Solo tempat Joko Wi Berasal. Dimana Solo tempat Joko Wi menjadi Walikota, lalu menjadi Gubernur dan menjadi Presiden Indonesia.
Pohon itu!
Lemi, saudara kemanusiaanku!
Seumpama sebuah pohon, sanggar Teater RUANG Solo, adalah pohon yang sudah tumbuh berkembang dengan rindang, dengan bunga-bunga yang indah dan buah-buah yang segar.
Sebagai sebuah pohon yang bertahun-tahun, lebih tepatnya 19 tahun, senantiasa menebarkan oksigen udara segar untuk bernafasnya hidup dan kehiduapan di sekitarnya.
Sebagai sebuah pohon yang bertahun-tahun, lebih tepatnya 19 tahun, kerindangannya meneduhi dari panas terik dan hujan segala sesuatu yang berteduh di bawahnya.
Bak seperti juga pohon-pohon yang puluhan tahun bahkan ratusan tahun, menebarkan oksigen udara segar dan meneduhi, yang sudah pasti dimiliki di setiap desa di Indonesia sebagai pohon Pedhanyangan atau Pohon Cikal Bakal.
Harus ditebang atas nama musrik, atas nama pembangunan jalan, atas nama kebersihan, atau atas nama kepentingan sesaat lainnya, tanpa mempertimbangan bertahun-tahun, berpuluh tahun bahkan beratus tahun nilai kegunaan keberadaan sebuah pohon itu, sungguh ironis keputusan penebangan yang terjadi!
Lemi Ponafasio, saudara kemanusiaanku!
Ini bukan kisah drama atau kisah lakon rekaan saya!
Bahkan Tulisan ini sangat jauh dari utuh untuk memaparkan kesakitan dan kesedihan yang ada!
Sebab kesakitan dan kesedihan itu adalah cucuran keringat, air mata bahkan darah yang tidak bisa ditampung dalam kata-kata, apalagi mengukurnya dengan angka-angka!
Semoga engkau dan dunia mengerti!
Solo, 5 November 2014
Joko Bibit Santoso
Keterangan :
#1. Lemi Ponafasio, seorang pemimpin Suku SAMOA sekaligus Sutradara Teater Dunia yang berasal dari Kelompok Teater MAU FORUM di New Zeland. Tahun 2009 sebagai Ketua Panitya untuk Forum Kerjasama antara New Zeland dengan Indonesia, yang akhirnya membatalkan peristiwa itu ketika mengetahui alasan Joko Bibit Santoso yang menolak menjadi salah satu dari delegasi Indonesia. Keputusan itu membuat di, bersama kelompok MAU FORUM dan keluarganya diusir dari ibukota Wellington oleh Pemerintahan New Zeland. Tahun 2010 bertandang ke sanggar Teater RUANG Solo, dari kunjungannya itu dia semakin yakin bahwa apa yang selama ini dia sudah putuskan adalah benar. Dan dia menyatakan diri sebagai “Brother Theatre” dengan Joko Bibit Santoso dan teater Ruang Solo. Sepulangnya ke New Zeland dia dengan bangga mendirikan sanggar yang menyerupai sanggar Teater RUANG Solo di daerah asalnya di Suku SAMOA.
#2. Lanjar Sarwanto, seorang anak kampung Dawung Wetan, lulusan SMA, anggota Teater RUANG tahun 1999 dikontrak Teater Dunia dari Perancis, yaitu kelompok TALIPOT ikut pentas keliling dunia dengan sutradara : Baldini.
#3.Ilham Ridho Illahi, anak umur 7 tahun anggota teater RUANG yang menjadi pemeran Joko Wi kecil dalam film : JOKO WI dengan sutradara : Azhar Kinoi Lubis, Produksi : K2K Pictures
#4 Rony Novianto, anggota Teater RUANG menjadi Aktor di Pekan Teater Mahsiswa di Bandung tahun 1996.
#5. Novianto, anggota teater RUANG yang menjadi pengusaha Perusahaan Keju Indrakila di Boyolali Jawa Tengah. Tahun 2011 meraih penghargaan “Satu Indonesia Award’ dari Astra dan beberapa kali masuk di acara televisi nasional “Kick Andy” Metro TV.
#6. Atma Sanggani Tunikasari, tahun 2014 meraih gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Sebelas Maret Surakarta, anak dari Joko Bibit Santoso yang tidak pernah berkerja dengan jelas selain total untuk kegiatan sosial dan kebudayaan di Teater RUANG Solo dan Komunitas Tanggul Budaya, tapi telah berhasil mendidik anaknya hingga lulus sarjana kedokteran. Biaya besar menempuh kedokteran itu bisa dilalui tanpa meminta bantuan orang lain kecuali Tuhan Yang Maha Esa.
Upacara 'nggantungke tuntut'!
'tuntut' pucuk bunga pisang/jantung pisang adalah simbol yang dimiliki rakyat biasa dalam budaya Jawa jika menuntut keadilan...
(JOKO BIBIT SANTOSO, SOLO 21 DESEMBER 2014)
Manggala :
Bukan suatu kebetulan dan rentetan rekayasa,
peristiwa-pertiwa yang terjadi yang saya tulis ini.
Semoga tulisan ini tidak dimasukan ke dalam
persoalan mainstream, yaitu persoalan antara Joko Wi dan Prabowo
Tapi satu persoalan dari banyak persoalan yang ada di Indonesia.
Sanggar Teater RUANG.
Lemi, saudara kemanusiaanku!#1
Seperti layaknya pohon yang baru tumbuh,
Daun-daun hijau rindang
Bunga-bunga indah mekar
Buah-buah bermunculan segar.
Tahun 1995 teater RUANG waktu itu
Sanggup mendirikan sebuah sanggar
Di lahan kosong pereng Tanggul Danukusuman Solo
Bukan karena bantuan pemerintah
Tapi karena uang tabungan kami sendiri
Karena jerih keringat kami sendiri.
Seorang pemuda kampung
Bisa keliling dunia dan bergaji tinggi
Gara-gara teater RUANG ada di kampung Danukusuman Solo ini. #2
Seorang anak kampung
Berkesempatan jadi bintang film
Memerankan sebagai Joko Wi kecil
Gara-gara sanggar teater RUANG di dekat rumahnya. #3
Seorang mahasiswa menjadi aktor teater nasional gara-gara belajar tekun di sanggar teater RUANG. #4
Seorang mahasiswa swasta
Berhasil mengembangkan usahanya
Menjadi contoh pengusaha muda se Indonesia
Gara-gara belajar berdisiplin dan berdikari di sanggar teater RUANG Ini. #5
Bahkan seorang anak kampung
Bisa menjadi dokter karena memang bertolak dari kebaikan sanggar teater RUANG di kampungnya. #6
Sungguh sebuah pohon yang bermanfaat....
Orang-orang kampung selalu meminjam barang-barang yang diperlukan ke tempat sanggar dengan gratis.
Jika ada orang berkesusahan
Orang-orang kampung meminta bantuan untuk meringankan kesusahan itu ke sanggar teater RUANG.
Juga anak-anak jika kesulitan tugas sekolahnya mereka lari minta bantuan ke sanggar teater RUANG.
Sanggar menjadi pohon yang rindang
Berbunga indah dan berbuah segar, Lemi!
Buah haru yang membikin bergetar hatiku
Setelah 19 tahun bersanggar di kampung Danukusuman ini adalah:
Ketika seorang anak bernama Risky
Menyodorkan sebuah naskah tulisan tangannya sendiri kepada saya
Meski hanya naskah sederhana
Bercerita tentang keinginannya bercocok tanam
Tapi logika dialognya sungguh runtut dan membikin saya terkejut.
Anak seusia 9 tahun kelas 4 Sekolah Dasar
Belum fasih menulis, tapi mampu membuat naskah lakon!
Padahal saya baru bisa menulis naskah lakon ketika tahun 1990 waktu mahasiswa seusia 24 tahun.
Keberadaan sanggar mampu mempercepat kreatifitas seseorang.
Inilah buah haru yang mengharu biru hatiku!
Joko Wi dengan Joko Bibit
Lemi, saudara kemanusiaanku!
Masih ingat kau memilih saya dan teater RUANG untuk datang ke Welllington di New Zeland
dan mengundang Joko Wi Walikota Solo waktu itu untuk bertemu dengan Walikotamu?
Sekarang Walikota itu sudah jadi orang nomor satu di negeri ini,
dan saya bersama teater RUANG tetap menjadi orang pinggiran yang lewat kesenian dan kebudayaan membangun ruang kesadaran anak-anak menyalurkan kreatifitas berekpresinya
Agar anak-anak itu tidak mengekspresikan kemarahannya pada perkelahian, pada umpatan-umpatan kotor meniru sinetron televisi,
Atau agar tidak menyalurkan ekspresinya dengan bermain playstasion dan bermain di mall dari uang hasil mencuri di rumah sendiri atau rumah tetangganya,
agar mereka tidak menyalurkan kreatifitas berekspresinya lewat mabuk-mabukan minuman keras atau obat-obat terlarang.
Tidak!
Lewat teater mereka bisa mementaskan bagaimana mereka mengekspresikan kemarahannya menjadi itikad baik berkaitan mencintai tetumbuhan, mahkluk hidup lain, tentang kerukunan, persaudaraan dan sebagainya!
Yah, saya tetap memilih menjadi orang pinggiran seperti itu!
Seperti pilihan saya ketika menolak undanganmu untuk bersama Joko Wi menjadi delegasi Indonesia bekerja sama dengan negaramu!
Dan kini baru terbukti kebenaran alasan penolakan saya waktu itu!
Dari dulu saya tahu,
bahwa seorang Joko Wi, seorang walikota, seorang pejabat, bahkan ketika menjadi presidenpun selalu dan selalu memandang kesenian atau kebudayaan hanyalah sebagai pembarangan saja....aset saja!
Seorang seperti Joko Wi pasti akan lebih berpihak
pada Festival-Festival Besar dengan biaya besar dengan sendirinya!
Dia jelas tidak mungkin mau tahu atau mau disusahkan untuk tahu
meski berbiaya besar dan mengatas namakan kesenian dan kebudayaan,
tapi apa yang diterima si pelaku kesenian dan kebudayaan itu begitu kecil dan tak sebanding dengan jerih keringatnya dan tak sebanding dengan biaya besar festivalnya!
Seorang seperti Joko Bibit selalu tahu ketidak beresan itu di dalam realita kesenian dan kebudayaan masyarakat semacam itu!
Yah!
Seorang seperti Joko Wi jelas tidak mungkin bluksukan
Malam-malam ke kampung-kampung ke desa-desa
Mengikuti kelompok-kelompok kesenian akar rumput
Yang berlatih hingga tengah malam buta
Dengan kemiskinan yang ada
Tapi tetap semangat mempertahankan akar kebudayaan dan kesenian yang ada
Meski selalu dan selalu sekarat bahkan mati digerus keadaan!
Seorang seperti Joko Wi jelas pasti sudah merasa menghargai ketika bisa mengundang mereka dengan biaya tak sebanding dengan jerih payahnya!
Seorang seperti Joko Bibit selalu disadarkan oleh keterlibatan dengan mereka hingga tengah malam buta dan tak pernah merasa bisa menghargai dengan bentuk penghormatan apapun apalagi hanya berupa nilai materi/rupiah...saja.
Karena proses mereka, semangat mereka, daya bertahan mereka atas kebengisan keadaan yang menggerus akar kebudayaan dan kesenian mereka, sebenarnya tak bisa dinilai sebatas angka-angka!
Seorang Joko Bibit sadar akan itu dan seorang seperti Joko Wi tak pernah berusaha menyadari persoalan seperti itu!
Kesadaran seorang seperti Joko Wi adalah kesadaran aset, kesadaran pasar, kesadaran merebut secepatnya kesempatan untuk bertahan hidup.
Sebab itulah saya menolak untuk menjadi Delegasi Indonesia bersama Joko Wi waktu itu,
dan gara-gara penolakan itu kamu yang menjadi Ketua Panitya Acara Kerja Sama antar New Zeland dengan Indonesia, maka kamu bersama kelompok dan keluargamu harus rela diusir dari ibukota Wellington!
Lalu satu tahun kemudian, kamu ingin membuktikan apa benar keputusan yang kamu ambil bertolak dari penolakan saya waktu itu, dengan bertandang langsung ke sanggar Teater RUANG di Solo!
Hanya cukup 2 hari kamu ke sini, dan ketika melihat sanggar Teater RUANG dengan mata kepala sendiri, kamu nyatakan dengan ketetapan hati , bahwa kamu mau jadi “brother theatre’ dengan saya dan teater RUANG.
Seorang seperti kamu Lemi, dengan penuh kesadaran rela datang ke sanggar Teater RUANG hanya untuk menetapkan hati menjadi ‘saudara kemanusiaan’ dengan saya dan teater RUANG.
Seorang seperti Joko Wi tidak mungkin melakukan hal seperti itu, bahkan ketika menjabat Walikota Solo dua kali tak pernah sekalipun bertandang ke Teater RUANG, (padahal Solo hanyalah kota kecil), apalagi sekarang sudah menjadi presiden Indonesia! Tak mungkin itu terjadi jika tidak menjadi hal yang besar yang menguntungkan dirinya!
Itulah yang membedakan antara Joko Wi dengan Joko Bibit dan kamu Lemi!
Logika Berbalik.
Lemi, saudara kemanusiaanku!
Saya tak mampu menerjemahkan lagi bahasa Tuhan yang dibahasakan kepada saya dan kelompok Teater RUANG Surakarta.
Saya dirundung kecamuk tak berkesudahan, kerna logika penalaran tak pernah bisa menyentuh ruang kesadaran kemanusiaan masyarakat dan aparatur pemerintahan di negara saya.
Mereka lebih suka yang praktis dan yang menguntungkan saja, sesuatu proses dan sesuatu yang tidak lagi menguntungkan secara langsung rasanya menjadi keharusan yang harus ditinggalkan atau bahkan ditiadakan dalam realita kehidupan mereka.
Dulu saya dan kelompok teater RUANG sering mementaskan orang-orang yang digusur dan dihabisi!
Tapi sekarang saya dan teater RUANG mengalaminya sendiri!
Dan ternyata jauh-jauh sekali dari apa yang selama ini kita interpretasikan!
Jauh-jauh sekali menyakitkan!
Jauh-jauh sekali menyedihkan!
Bagaimana tidak jauh-jauh sekali menyakitkan...jauh-jauh sekali menyedihkan?
Bukan lantaran bangunannya yang harus diruntuhkan...
Bukan lantaran tempatnya yang harus diperbaiki....
bangunan dan tempat hanya wujud benda materi saja
tapi proses panjang, sejarah, fakta, peristiwa-peristiwa, kenangan, jerih payah, adalah sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka seperti materi....
ia melekat pada jiwa...melekat pada rasa...melekat pada hati
dan tiba-tiba harus digusur dan dihilangkan tanpa pertimbangan dan kebijakan yang matang atas nilai yang tidak bisa dinilai dengan angka itu...
Andai orang-orang yang menggusur dan menghabisi itu merasakan realita yang kami alami, apakah sebengis itu tindakan perlakuan yang akan diperbuat?
Agaknya televisi dan koran adalah alat yang paling canggih mematikan daya empati orang-orang itu, karena realita penggusuran dan pembantaian sering kali ditayangkan dengan jelas dan gamblang ...karena seringnya melihat seperti itu, maka peristiwa yang sebenarnya yang jauh-jauh menyakitkan...yang jauh-jauh menyedihkan itu jadi kurang menyakitkan dan menyedihkan lagi!
Orang-orang butuh peristiwa yang lebih bengis lagi rupanya!
Lemi, saudara kemanusiaanku!
Apakah tindakan semacam itu dibenarkan oleh kemanusiaan dimanapun berada?
Diskriminasi dan Intimidasi semu!
Awalnya anak-anak mereka sendiri dilarang bermain ke sanggar teater RUANG.
Bak seperti tempat yang menyebarkan penyakit atau membuat anak-anak mereka menjadi penjahat keji jika pulang dari tempat sanggar kami.
Bak menjadi tempat yang diharamkan secara sosial!
Tapi masih saja ada anak-anak yang tetap mau bermain bahkan berlatih teater di sanggar teater RUANG...
Pun membuat mereka lebih agresif
Lalu dengan mendekati anak-anak itu menghasut agar tidak bermain atau berlatih di sanggar teater RUANG.
Beberapa anak terpengaruh...beberapa anak tetap nekat bermain dan berlatih teater di sanggar!
Kenyataan itu membuat mereka lebih agresif lagi
lalu mempengaruhi orang tuanya agar tidak memperbolehkan anaknya bermain dan berlatih teater di sanggar teater RUANG.
Beberapa orang tua melarang anaknya...tinggal beberapa yang membiarkan anaknya tetap bermain dan berlatih teater di sanggar!
Hal itu semakin membikin emosi mereka!
Puncaknya salah satu dari mereka emosinal seperti orang kesurupan,
Hingga sampai memaki-maki seorang anak yang nekat bermain dan berlatih di sanggar, dengan alasan mencuri buah manggannya...umpatan kasar dan ancaman terlontar untuk Ridho anak umur 7 tahun. Padahal anak yang berbuat sudah lari pulang ke rumahnya.
Ah!
Pantaskah perlakuan semacam itu ditujukan ke anak-anak hanya gara-gara mereka ingin bermain dan berlatih di sanggar Teater RUANG?
Banyak sekali hal tidak pantas yang seharusnya dipertanyakan, tapi jelas akan menghabiskan ruangan untuk menuliskannya!
Kaum Oportunis
Orang-orang yang dulunya menyanjung-nyanjung keberadaan sanggar teater RUANG.
Bersikap ramah ketika mereka memerlukan kegiatan kesenian untuk lomba desa, untuk basar-basar dan acara-acara budaya di tingkat desa dan kota.
Wajah-wajah yang penuh senyum penuh ramah tamah ketika meminta sumbangan, ketika meminta bantuan ke sanggar.
Seketika bisa berubah dratis menjadi wajah-wajah serius dan tegas.
Seketika bisa berubah drastis menjadi wajah-wajah kemarahan dan mengintimidasi.
Ketika melihat sesuatu sudah layak menjadi korban. Ketika melihat sesuatu bisa dijadikan obyek atau proyek yang menguntungkan. Ketika melihat sesuatu menjadi minoritas yang tak memiliki massa dan kekuatan seperti mereka. Ketika melihat sesuatu menjadi lemah dan tengah lengah.
Terkam dan binasakan!
Wajah-wajah yang menunjukan batang hidung belangnya ketika melihat si obyek yaitu sanggar teater RUANG sudah saatnya dikorbankan!
Wajah-wajah orang-orang seperti ini selalu bisa meraup keuntungan dari semua peristiwa dengan dalih dan segala upaya memutar balikan fakta, bersembunyi dibalik trend-trend, slogan-slogan, jargon-jargon yang tengah hangat di masyarakat dan zamannya.
Dengan dalih atas nama masyarakat banyak yang sudah tidak suka dengan sanggar, karena kumuh, karena menjadi tempat membolos anak-anak, menjadi tempat mabuk-mabuk dan tempat mesum seperti dituduhkan masyarakat, seperti yang diberitakan koran-koran, maka sanggar teater RUANG pantas untuk dibersikan diratakan dengan tanah untuk diganti dengan bangunan baru, bangunan terbuka hijau. Seperti yang dicanangkan sebagai program pemerintah.
Nyatalah sekarang, Lemi saudara kemanusiaanku!
Jadi yang selama ini kejadian-kejadian diskriminasi dan intimidasi terhadap sanggar Teater RUANG ujung ceritanya memang harus digusur dan diratakan tanah!
Itikadnya bahwa sanggar Teater RUANG adalah peluang menjadi proyek yang menguntungkan bagi wajah-wajah orang-orang seperti itu! Kaum oportunis!
Perbuatan keji seperti itu, cara-cara tak manusiawi seperti itu, apakah seorang seperti Joko Wi mengetahui dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi?
Apakah seorang seperti Joko Wi menyadari nasib buruk yang menimpa kebudayaan akar rumput seperti kami, sebetulnya bertolak dari perbuatan tak senonoh oleh orang-orang oportunis semacam itu?
Apakah seorang seperti Joko Wi menyadari bahwa kelompok kesenian dan kebudayaan akar rumput bisa dengan mudah ditunggangi selalu untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya yang tak mudah terendus oleh KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) sebagai cara-cara korupsi melalui event-event besar festival dan kegiatan budaya?
Apakah seorang seperti Joko Wi mengerti begitu julik dan pintarnya mereka kaum oportunis itu memutar balikkan fakta menjadikan sanggar Teater RUANG menjadi korban dan obyek proyekan baru yang bisa menguntungkan mereka?
Seorang seperti Joko Wi adalah Walikota, Gubernur dan Presiden, penanggung jawab dan penentu keadaan di manapun tempat di Indonesia berada. Tak semestinya tinggal diam atas perbuatan-perbuatan kaum oportunis yang seperti itu di manapun tempat di wilayah Indonesia.
Dan Indonesia kecil itu ada di Solo!
Di mana Solo tempat Joko Wi Berasal. Dimana Solo tempat Joko Wi menjadi Walikota, lalu menjadi Gubernur dan menjadi Presiden Indonesia.
Pohon itu!
Lemi, saudara kemanusiaanku!
Seumpama sebuah pohon, sanggar Teater RUANG Solo, adalah pohon yang sudah tumbuh berkembang dengan rindang, dengan bunga-bunga yang indah dan buah-buah yang segar.
Sebagai sebuah pohon yang bertahun-tahun, lebih tepatnya 19 tahun, senantiasa menebarkan oksigen udara segar untuk bernafasnya hidup dan kehiduapan di sekitarnya.
Sebagai sebuah pohon yang bertahun-tahun, lebih tepatnya 19 tahun, kerindangannya meneduhi dari panas terik dan hujan segala sesuatu yang berteduh di bawahnya.
Bak seperti juga pohon-pohon yang puluhan tahun bahkan ratusan tahun, menebarkan oksigen udara segar dan meneduhi, yang sudah pasti dimiliki di setiap desa di Indonesia sebagai pohon Pedhanyangan atau Pohon Cikal Bakal.
Harus ditebang atas nama musrik, atas nama pembangunan jalan, atas nama kebersihan, atau atas nama kepentingan sesaat lainnya, tanpa mempertimbangan bertahun-tahun, berpuluh tahun bahkan beratus tahun nilai kegunaan keberadaan sebuah pohon itu, sungguh ironis keputusan penebangan yang terjadi!
Lemi Ponafasio, saudara kemanusiaanku!
Ini bukan kisah drama atau kisah lakon rekaan saya!
Bahkan Tulisan ini sangat jauh dari utuh untuk memaparkan kesakitan dan kesedihan yang ada!
Sebab kesakitan dan kesedihan itu adalah cucuran keringat, air mata bahkan darah yang tidak bisa ditampung dalam kata-kata, apalagi mengukurnya dengan angka-angka!
Semoga engkau dan dunia mengerti!
Solo, 5 November 2014
Joko Bibit Santoso
Keterangan :
#1. Lemi Ponafasio, seorang pemimpin Suku SAMOA sekaligus Sutradara Teater Dunia yang berasal dari Kelompok Teater MAU FORUM di New Zeland. Tahun 2009 sebagai Ketua Panitya untuk Forum Kerjasama antara New Zeland dengan Indonesia, yang akhirnya membatalkan peristiwa itu ketika mengetahui alasan Joko Bibit Santoso yang menolak menjadi salah satu dari delegasi Indonesia. Keputusan itu membuat di, bersama kelompok MAU FORUM dan keluarganya diusir dari ibukota Wellington oleh Pemerintahan New Zeland. Tahun 2010 bertandang ke sanggar Teater RUANG Solo, dari kunjungannya itu dia semakin yakin bahwa apa yang selama ini dia sudah putuskan adalah benar. Dan dia menyatakan diri sebagai “Brother Theatre” dengan Joko Bibit Santoso dan teater Ruang Solo. Sepulangnya ke New Zeland dia dengan bangga mendirikan sanggar yang menyerupai sanggar Teater RUANG Solo di daerah asalnya di Suku SAMOA.
#2. Lanjar Sarwanto, seorang anak kampung Dawung Wetan, lulusan SMA, anggota Teater RUANG tahun 1999 dikontrak Teater Dunia dari Perancis, yaitu kelompok TALIPOT ikut pentas keliling dunia dengan sutradara : Baldini.
#3.Ilham Ridho Illahi, anak umur 7 tahun anggota teater RUANG yang menjadi pemeran Joko Wi kecil dalam film : JOKO WI dengan sutradara : Azhar Kinoi Lubis, Produksi : K2K Pictures
#4 Rony Novianto, anggota Teater RUANG menjadi Aktor di Pekan Teater Mahsiswa di Bandung tahun 1996.
#5. Novianto, anggota teater RUANG yang menjadi pengusaha Perusahaan Keju Indrakila di Boyolali Jawa Tengah. Tahun 2011 meraih penghargaan “Satu Indonesia Award’ dari Astra dan beberapa kali masuk di acara televisi nasional “Kick Andy” Metro TV.
#6. Atma Sanggani Tunikasari, tahun 2014 meraih gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Sebelas Maret Surakarta, anak dari Joko Bibit Santoso yang tidak pernah berkerja dengan jelas selain total untuk kegiatan sosial dan kebudayaan di Teater RUANG Solo dan Komunitas Tanggul Budaya, tapi telah berhasil mendidik anaknya hingga lulus sarjana kedokteran. Biaya besar menempuh kedokteran itu bisa dilalui tanpa meminta bantuan orang lain kecuali Tuhan Yang Maha Esa.
Upacara 'nggantungke tuntut'!
'tuntut' pucuk bunga pisang/jantung pisang adalah simbol yang dimiliki rakyat biasa dalam budaya Jawa jika menuntut keadilan...
(JOKO BIBIT SANTOSO, SOLO 21 DESEMBER 2014)
Minggu, 07 Desember 2014
Delusi Dibalik Air Mata Langit
Kepulan asap dan segelas nira yang temaniku dalam kotak ini..
Tak ada alasan untuk memanjakan malam, berdiam diri lebih nyaman..
Namun aroma durja tak jua bisa ku hindari..
Kendati demikian air mata langit beriku senyuman..
Ada riang diantara jatuhan air hujan..
Terlihat menyenangkan..
Mereka serupa penghuni surga dalam novel yang kubaca..
Namun ini surga firdaus, bukan taman langit dan mereka hanya anak bumi..
Mereka berhenti tertawa setelah teriakan lantang setengah memaki menyuruhnya untuk pulang..
Keriangan sesaat, ya temporary seperti keberadaan setiap insan di muka bumi..
Pulang.. Ya kata pulang adalah kata yang jarang kutemui lagi..
Apalagi terdengar dari mulut ibu yang bersuara merdu..
Ataupun dari ayah yang lantang dan gagah..
Ya.. Delusi di antara jejatuhan hujan..
Masa kecil yang indah..
Canda gurau diruang tengah..
Menangis manja meminta tidur ditemani..
Malam malam yang hangat.. Erat dan bersahabat..
Ya.. Masa kecil yang singkat namun kan selalu teringat..
Tak ada alasan untuk memanjakan malam, berdiam diri lebih nyaman..
Namun aroma durja tak jua bisa ku hindari..
Kendati demikian air mata langit beriku senyuman..
Ada riang diantara jatuhan air hujan..
Terlihat menyenangkan..
Mereka serupa penghuni surga dalam novel yang kubaca..
Namun ini surga firdaus, bukan taman langit dan mereka hanya anak bumi..
Mereka berhenti tertawa setelah teriakan lantang setengah memaki menyuruhnya untuk pulang..
Keriangan sesaat, ya temporary seperti keberadaan setiap insan di muka bumi..
Pulang.. Ya kata pulang adalah kata yang jarang kutemui lagi..
Apalagi terdengar dari mulut ibu yang bersuara merdu..
Ataupun dari ayah yang lantang dan gagah..
Ya.. Delusi di antara jejatuhan hujan..
Masa kecil yang indah..
Canda gurau diruang tengah..
Menangis manja meminta tidur ditemani..
Malam malam yang hangat.. Erat dan bersahabat..
Ya.. Masa kecil yang singkat namun kan selalu teringat..
Kolektifitas Bukanlah Tentang Finansial Saja
Kolektif adalah kata yang sering kita ucap dan dengar dalam scene saat
beremuk untuk sekedar berbagi cerita ataupun memobilisasi waktu luang
agar tidak menjenuhkan. Dalam setiap gigs yang kita adakan kata kolektif
selalu kita sematkan untuk memberitahukan pada semua band yang ingin
terlibat dalam gigs diberikan kewajiban dan hal yang setara. Namun
sesungguhnya makna kolektif tidak tersampaikan dengan baik, ya ada
kesalah pahaman atau mungkin kebodohan dalam menanggapi. Kolektif yang
kita maksud dalam scene d.i.y bukanlah tentang uang semata tapi tentang
tanggung jawab dalam berlangsungnya gigs kolektif itu sendiri, bila
kolektif kita artikan dalam segi semua bayar sama rata bukankah terlalu
materialistis.? Dan kita sadar betul bahwa tidak semua hal bisa ditukar
dengan uang, juga dimana kebersamaan kita bila yang kita bicarakan
temtang kesetaraan mengarah pada uang. Tak ada kebersamaan dalam
kolektifitas yang demikian, yang ada hanya antrian groupis yang ingin
manggung tanpa mau bekerja dan hanya ingin instan.
Sialnya akhir - akhir ini kebanyakan gigs yang mengatasnamakan kolektifitas berlangsung dengan jerih payah beberapa tangan saja, sisa tangan yang lainnya sibuk mengepal rokok, minuman keras, mic, gitar dan stick drym saja. Memuakan memang bila kita sadar betul menyaksikan seorang kawan sibuk membenahi peralatan untuk show kawannya namun kawannya itu tak hendak membantu. Apa yang salah dengan insureksi yang tak sekali duakali disampaikan.? Realitanya berbagi dengan orang yang menolak revolusi diri sangatlah memuakan. Tapi insureksi tetaplah harus disampaikan, itulah mengapa saya katakan satir menjadi martil bila yang ditimpai tak juga ada perubahan.
Tak ada yang ingin disampaikan lagi selain kolektifitas bukanlah tentang uang, melainkan kesetaraan dalam kebersamaan. Long life comradz..
Sialnya akhir - akhir ini kebanyakan gigs yang mengatasnamakan kolektifitas berlangsung dengan jerih payah beberapa tangan saja, sisa tangan yang lainnya sibuk mengepal rokok, minuman keras, mic, gitar dan stick drym saja. Memuakan memang bila kita sadar betul menyaksikan seorang kawan sibuk membenahi peralatan untuk show kawannya namun kawannya itu tak hendak membantu. Apa yang salah dengan insureksi yang tak sekali duakali disampaikan.? Realitanya berbagi dengan orang yang menolak revolusi diri sangatlah memuakan. Tapi insureksi tetaplah harus disampaikan, itulah mengapa saya katakan satir menjadi martil bila yang ditimpai tak juga ada perubahan.
Tak ada yang ingin disampaikan lagi selain kolektifitas bukanlah tentang uang, melainkan kesetaraan dalam kebersamaan. Long life comradz..
Pemikiran "KOLOT" Hanya Mewariskan Kemonotonan
Pada malam - malam dimana saya masih terjaga dan enggan memejamkan
mata sering terlintas beberapa celotehan yang agak mencubit dada, dan
kebanyakan adalah perkataan yang menyudutkan saya pada eksistensi
nihilis. Serupa pembicaraan bersama kawan, orang sekampung ataupun
mereka yang baru saya kenal, tentu saja bukan karena saya selalu membuka
pembicaraan tentang bidang politik ataupun serupanya tapi mungkin
karena hal - hal yang menyangkut pemerintahan dan kenegaraan memang
sudah lumrah dan umu untuk dibicarakan. Perkataan yang selalu membayang
di sela waktu sebelum tidur adalah kata "apa sih gunanya demo, mau
teriak sampai pita suara putuspun tak mengubah apapun.?" atau "alah,
perlawanan apaan lah.. ga ada yang bisa melawan pemerintah, kita cukup
menikmati aja.. toh melawan juga ga bikin kaya.." juga "dasar anak muda
jaman sekarang, demo - demo eh malah ngerusak fasilitas umum.."
perkataan tersebut hanya beberapa celotehan, masih banyak lagi bila saya
sebutkan semua.
Pertama mungkin tentang aksi demo, ketahuilah
bahwa aksi demo bukanlah aksi yang mengubah suatu hal dengan instan
karena para aktivis bukanlah dewa ataupun Tuhan yang dapat merubah suatu
hal hanya dengan satu kalimat kala berkehendak. Sejatinya aksi demo itu
sendiri bukan sekedar aksi menuntut pembenahan, pembatalan ataupun
keadilan semata. Ada hal penting lainnya selain hal hal tersebut, yaitu
peringatan kepada pemerintah bahwa ada yang salah dengan sistem,
perundang - undangan ataupun keputusan yang mereka buat. Untuk apa
peringatan itu ? tentu saja agar kita sebagai rakyat mendapatkan
kelayakan sebagaimana hak kita sebagai rakyat yang memiliki kedaulatan
tertinggi di negara ini. Dan tentu saja pemerintahpun tak boleh
meutuskan suatu hal seenak jidad, pemerintah harus meulek juga
terhadap kondisi sosial, perekonomian rakyatnya karena gunanya
pemerintah bukanlah untuk memerintah dan membuat peraturan melainkan
menjaga kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya dengan begitu akan
terciptalah kedamaian.
Kedua tentang perlawanan, kenapa harus
melawan.? melawan adalah insting membela diri, karena ada sebab
musababnya. Ketika seseorang berada dalam keadaan terdesak, terancam,
tertindas dan sebagainya, rasa untuk membela diri tentu saja akan muncul
dan kemudian dengan adanya dorongan keberanian munculah aksi balasan
atau melawan secara reflek. Nah, apa kita menagih hasil ataupun bentuk
timbal balik lainnya setelah melawan.? tidak ada, hanya ada aksi "saling melawan"
atau sebut saja pergesekan dalam perihal ini. Demikian pula dengan aksi
- aksi yang kami lakukan, kami melakukan perlawanan karena ada yang
tertindas, ada yang tak dapati keadilan, ada yang terancam dan
perlawanan sesungguhnya serupa panggilan jiwa, sebut saja saya sakit
jiwa jika kalian anggap demikian namun kenyataannya demikian. Kita
memang memerlukan perlawanan, mungkin kebanyakan orang memilih
perlawanan untuk ancaman yang datang pada dirinya sendiri, sebut saja
mengindividualismekan diri dalam perihal melawan. Namun sejujurnya saya
tidak bisa menahan diri untuk setiap penindasan - penindasan,
pelanggaran ham dsb, dan yang saya lakukan ya melawan. Entah itu
pejabat, kyai, ulama ataupun presiden sekalipun, bila mereka melakukan
penindasan kepada kaum yang lemah tentu harus dilawan dan yang lemah
haruslah dibela. Bukan karena saya merasa kuat, so patriotis atau tek -
tek beungek serupanya, melainkan karena saya adalah manusia. Bukankah
yang membedakan manusia dengan hewan adalah moralitas, perasaan, akal
dan jiwa. Coba bayangkan bila kita menemukan seseorang tengah ditindas
oleh seseorang lainnya, apa kita merasa seolah - olah tak terjadi apa -
apa didepan mata kita.? Tentunya ada perasaan sedih, kesal, marah dan
ingin menolong yang lemah. Apalagi bila yang menindasnya itu adalah
seseorang yang mabuk akan duniawi dan menindas seseorang yang polos dan
tak memiliki daya untuk melawan. Dan untuk melawan pemerintah, telaah
dulu apa sebenarnya yang kita lawan dalam perihal melawan pemerintahan.?
Sistem yang korup dan keputusan yang menyengsarakan rakyat tentunya.
Bentuk perlawanannya pun bukan berbentuk fisik, dengan merusak berbagai
fasilitas misalnya. Kita melawan dengan bersuara, vandal dan hal yang
tidak menjatuhkan korban jiwa lainnya tentunya. Bila vandal kalian sebut
merusak, sesungguhnya korporasi dan pemerintahanpun melakukan hal
merusak yang serupa. Kenapa.? lihatlah poster dan baligho dimusim
parpol, apakah itu bukan vandalisme.? mereka sama - sama memprovokasi.
Yang membedakan hanya misi dan penilaian saja.Ketiga tentang aksi yang
merusak fasilitas umum, tentang hal ini saya sendiri sangatlah tidak
menyukai aksi tersebut. Bila sekedar membakar ban dijalan, coret - coret
dinding mungkin itu masih dalam batas maklum karena tidak terlalu
merusak, dengan sedikit sentuhanpun akan kembali terlihat seperti
semula. Mungkin untuk hal ini harus ada penekan kepada mereka yang aksi,
entah siapapun itu haruslah ada seseorang yang memberikan pengarahan
kepada mereka. Karena apa yang hendak mereka sampaikan tidaklah akan
efektif bila cenderung merusak, khalayak lebih fokus menilai keburukan
ketimbang maksud baik yang hendak disampaikan. Perlu kesabaran ekstra
dan kesadaran akan moralitas juga nilai - nilai estetik dalam melakukan
aksi. Dan mungkin harus fleksibel juga, karena bila kita bertindak
gegabah mungkin khalayak hanya akan mencemooh ketimbang memikirkan apa
yang kita insureksikan. Itu karena setiap kepala memiliki kaca mata yang
tak sama, bukan hal yang mudah untuk menempatkan diri dalam sudut yang
mereka anggap benar. Kenapa.? karena pemikiran yang "kolot" masih sangat
kental dinagara kita ini. Dan tentu saja itupun siasat tirani untuk
mencetak khalayak menjadi sedemikian rupa dan tetap tunduk pada putusan -
putusan yang mereka buat.
Catatan ini hanya sudut pandang saya
pribadi, dan hanya apresiasi kemuakan disela - sela malam kesatiran
saya. Maaf bila ada perkataan yang mengandung belati penyayat hati.
Namun ini tetaplah kejujuran dari apa yang selalu mengganjal dikepala
saya.
Jumat, 08 Agustus 2014
"MIMPI CHATTING BARENG TUHAN" By Arogansi Kapitalis
BUZZ!!!
TUHAN : Kamu memanggilKu ?
AKU : MemanggilMu ? Tidak.. Ini siapa ya ?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa ? Semut juga sibuk.
AKU : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikit pun. Hidup jadi seperti diburu buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.
AKU : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa Senang ?
TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN :Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU : Jika Penderitaan itu pilihan,mengapa orang baik selalu Menderita ?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa API. Orang baik tidak dapat melewati rintangan, tanpa menderita.Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.
AKU : Kadang - kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan ?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.
AKU : Di dalam saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi ?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan, daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU : Apa yang menarik dari manusia ?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku ?”. Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku ?”.
AKU : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini ?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini ?
TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU : Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
AKU : Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN has signed out.
TUHAN : Kamu memanggilKu ?
AKU : MemanggilMu ? Tidak.. Ini siapa ya ?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa ? Semut juga sibuk.
AKU : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikit pun. Hidup jadi seperti diburu buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.
AKU : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa Senang ?
TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN :Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU : Jika Penderitaan itu pilihan,mengapa orang baik selalu Menderita ?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa API. Orang baik tidak dapat melewati rintangan, tanpa menderita.Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.
AKU : Kadang - kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan ?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.
AKU : Di dalam saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi ?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan, daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU : Apa yang menarik dari manusia ?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku ?”. Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku ?”.
AKU : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini ?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini ?
TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU : Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
AKU : Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN has signed out.
Sejarah dan latar belakang konflik Israel-Palestina dari 2000SM- sampai sekarang.
Sejarah dan latar belakang konflik Israel-Palestina bisa
ditarik mundur sejak tahun 2000 SM. Namun dalam sejarah kontemporer,
konflik Palestina-Israel dimulai pada tahun 1967 ketika Israel menyerang
Mesir, Yordania dan Syria dan berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza
(Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem
(Yordania).
Sampai sekarang perdamaian sepertinya jauh dari harapan. Ditambah
lagi terjadi ketidaksepakatan tentang masa depan Palestina dan
hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di Palestina sendiri.
Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat sekaligus upaya membuka
pemahaman kita mengenai latar belakang sejarah sebab terjadinya konflik
ini.
Sebelum memulai tulisan yang pernah dimuat di omkicau.com ini, Si
Momot perlihatkan dulu sebuah momen beberapa tahun lalu sebagaimana
terlihat dalam foto-foto di bawah ini. Ini adalah foto-foto yang dimuat
di blog kawan Om Dion (sayang blognya sudah tidak aktif lagi), yang
ditaut ke blog omkicau.com.
Di halaman itu, Dion mengatakan:
“Foto-foto ini merupakan foto yang tidak
akan pernah saya lupakan untuk seumur hidup. Foto yang diambil oleh
wartawan Getty Images ini adalah foto seorang anak yang ditinggal mati
oleh ibunya. Dan kematian ibu ini harus berakhir di pelukan anaknya
sendiri. Satu hal yang menurut saya menunjukkan sisi kejam dan humanis
dari perang.
Tidak ada yang paling mengharukan dan menyedihkan ketika melihat
orang yang kita cintai meninggal di pelukan kita. Tuhan, hentikanlah
perang ini demi anak-anak dan ibu di dunia.”
Dengan judul “Detik-detik Mengharukan” inilah foto-foto tersebut:
PERANG, SUNGGUH BIADAB!!!!!
Sekilas tentang konflik Palestina:
Konflik Palestina – Israel menurut sejarah sudah 31 tahun ketika pada
tahun 1967 Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria dan berhasil
merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi
Barat dan Yerussalem (Yordania).. Sampai sekarang perdamaian sepertinya
jauh dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan tentang masa
depan Palestina dan hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di
Palestina sendiri. Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat sekaligus
upaya membuka pemahaman kita mengenai latar belakang sejarah sebab
terjadinya konflik ini.
2000 SM – 1500 SM
2000 SM – 1500 SM
Istri Nabi Ibrahim A.s., Siti Hajar mempunyai anak Nabi Ismail A.s.
(bapaknya bangsa Arab) dan Siti Sarah mempunyai anak Nabi Ishak A.s.
yang kemudian mempunyai anak Nabi Ya’qub A.s. alias Israel (Israil,
Qur’an). Anak keturunannya disebut Bani Israel sebanyak 7 (tujuh) orang.
Salah satunya bernama Nabi Yusuf A.s. yang ketika kecil dibuang oleh
saudara-saudaranya yang dengki kepadanya. Nasibnya yang baik membawanya
ke tanah Mesir dan kemudian dia menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ketika
masa paceklik, Nabi Ya’qub A.s. beserta saudara-saudara Yusuf
bermigrasi ke Mesir. Populasi anak keturunan Israel (Nabi Ya’qub A.s.)
membesar.
1550 SM – 1200 SM
Politik di Mesir berubah. Bangsa Israel dianggap sebagai masalah bagi negara Mesir. Banyak dari bangsa Israel yang lebih pintar dari orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh pemerintah Firaun bangsa Israel diturunkan statusnya menjadi budak.
1550 SM – 1200 SM
Politik di Mesir berubah. Bangsa Israel dianggap sebagai masalah bagi negara Mesir. Banyak dari bangsa Israel yang lebih pintar dari orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh pemerintah Firaun bangsa Israel diturunkan statusnya menjadi budak.
1200 SM – 1100 SM
Nabi Musa A.s. memimpin bangsa Israel meninggalkan Mesir, mengembara di gurun Sinai menuju tanah yang dijanjikan, asalkan mereka taat kepada Allah Swt – dikenal dengan cerita Nabi Musa A.s. membelah laut ketika bersama dengan bangsa Israel dikejar-kejar oleh tentara Mesir menyeberangi Laut Merah. Namun saat mereka diperintah untuk memasuki tanah Filistin (Palestina), mereka membandel dan berkata: “Hai, Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi ada orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu (Tuhanmu), dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS 5:24)
Nabi Musa A.s. memimpin bangsa Israel meninggalkan Mesir, mengembara di gurun Sinai menuju tanah yang dijanjikan, asalkan mereka taat kepada Allah Swt – dikenal dengan cerita Nabi Musa A.s. membelah laut ketika bersama dengan bangsa Israel dikejar-kejar oleh tentara Mesir menyeberangi Laut Merah. Namun saat mereka diperintah untuk memasuki tanah Filistin (Palestina), mereka membandel dan berkata: “Hai, Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi ada orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu (Tuhanmu), dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS 5:24)
Akibatnya mereka dikutuk oleh Allah Swt dan hanya berputar-putar saja
di sekitar Palestina. Belakangan agama yang dibawa Nabi Musa A.s.
disebut Yahudi – menurut salah satu marga dari bangsa Israel yang paling
banyak keturunannya, yakni Yehuda, dan akhirnya bangsa Israil – tanpa
memandang warga negara atau tanah airnya – disebut juga orang-orang
Yahudi.
1000 SM – 922 SM
Nabi Daud A.s. (anak Nabi Musa A.s.) mengalahkan Goliath (Jalut, Qur’an) dari Filistin. Palestina berhasil direbut dan Daud dijadikan raja. Wilayah kerajaannya membentang dari tepi sungai Nil hingga sungai Efrat di Iraq. Sekarang ini Yahudi tetap memimpikan kembali kebesaran Israel Raya seperti yang dipimpin raja Daud. Bendera Israel adalah dua garis biru (sungai Nil dan Eufrat) dan Bintang Daud. Kepemimpinan Daud A.s. diteruskan oleh anaknya Nabi Sulaiman A.s. dan Masjidil Aqsa pun dibangun.
922 SM – 800 SM
Sepeninggal Sulaiman A.s., Israel dilanda perang saudara yang berlarut-larut, hingga akhirnya kerajaan itu terbelah menjadi dua, yakni bagian Utara bernama Israel beribukota Samaria dan Selatan bernama Yehuda beribukota Yerusalem.
Sepeninggal Sulaiman A.s., Israel dilanda perang saudara yang berlarut-larut, hingga akhirnya kerajaan itu terbelah menjadi dua, yakni bagian Utara bernama Israel beribukota Samaria dan Selatan bernama Yehuda beribukota Yerusalem.
800 SM – 600 SM
Karena kerajaan Israel sudah terlalu durhaka kepada Allah Swt maka kerajaan tersebut dihancurkan oleh Allah Swt melalui penyerangan kerajaan Asyiria.
Karena kerajaan Israel sudah terlalu durhaka kepada Allah Swt maka kerajaan tersebut dihancurkan oleh Allah Swt melalui penyerangan kerajaan Asyiria.
“Sesungguhnya Kami telah mengambil kembali perjanjian dari Bani
Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap
datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak
diingini hawa nafsu mereka, maka sebagian rasul-rasul itu mereka
dustakan atau mereka bunuh.” (QS 5:70)
Hal ini juga bisa dibaca di Injil (Bible) pada Kitab Raja-raja ke-1 14:15 dan Kitab Raja-raja ke-2 17:18.
600 SM – 500 SM
Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukadnezar dari Babylonia. Dalam Injil Kitab Raja-raja ke-2 23:27 dinyatakan bahwa mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari Yerusalem dan dipenjara di Babylonia.
Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukadnezar dari Babylonia. Dalam Injil Kitab Raja-raja ke-2 23:27 dinyatakan bahwa mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari Yerusalem dan dipenjara di Babylonia.
500 SM – 400 SM
Cyrus Persia meruntuhkan Babylonia dan mengijinkan bangsa Israel kembali ke Yerusalem.
Cyrus Persia meruntuhkan Babylonia dan mengijinkan bangsa Israel kembali ke Yerusalem.
330 SM – 322 SM
Israel diduduki Alexander Agung dari Macedonia (Yunani). Ia melakukan hellenisasi terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi Israel, sehingga nantinya Injil pun ditulis dalam bahasa Yunani dan bukan dalam bahasa Ibrani.
300 SM – 190 SM
Yunani dikalahkan Romawi. Maka Palestina pun dikuasai imperium Romawi.
1 – 100 M
Nabi Isa A.s. / Yesus lahir, kemudian menjadi pemimpin gerakan melawan penguasa Romawi. Namun selain dianggap subversi oleh penguasa Romawi (dengan ancaman hukuman tertinggi yakni dihukum mati di kayu salib), ajaran Yesus sendiri ditolak oleh para Rabbi Yahudi. Namun setelah Isa tiada, bangsa Yahudi memberontak terhadap Romawi.
100 – 300
Pemberontakan berulang. Akibatnya Palestina dihancurkan dan dijadikan area bebas Yahudi. Mereka dideportasi keluar Palestina dan terdiaspora ke segala penjuru imperium Romawi. Namun demikian tetap ada sejumlah kecil pemeluk Yahudi yang tetap bertahan di Palestina. Dengan masuknya Islam kemudian, serta dipakainya bahasa Arab di dalam kehidupan sehari-hari, mereka lambat laun terarabisasi atau bahkan masuk Islam.
313
Pusat kerajaan Romawi dipindah ke Konstantinopel dan agama Kristen dijadikan agama negara.
Pusat kerajaan Romawi dipindah ke Konstantinopel dan agama Kristen dijadikan agama negara.
500 – 600
Nabi Muhammad Saw lahir di tahun 571 M. Bangsa Yahudi merembes ke
semenanjung Arabia (di antaranya di Khaibar dan sekitar Madinah),
kemudian berimigrasi dalam jumlah besar ke daerah tersebut ketika
terjadi perang antara Romawi dengan Persia.
621
Nabi Muhammad Saw melakukan perjalanan ruhani Isra’ dari masjidil Haram di Makkah ke masjidil Aqsa di Palestina dilanjutkan perjalana Mi’raj ke Sidrathul Muntaha (langit lapis ke-7). Rasulullah menetapkan Yerusalem sebagai kota suci ke-3 ummat Islam, dimana sholat di masjidil Aqsa dinilai 500 kali dibanding sholat di masjid lain selain masjidil Haram di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah. Masjidil Aqsa juga menjadi kiblat umat Islam sebelum dipindah arahnya ke Ka’bah di masjidil Haram, Makkah.
622
Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah dan pendirian negara Islam – yang selanjutnya disebut khilafah. Nabi mengadakan perjanjian dengan bangsa Yahudi yang menjadi penduduk Madinah dan sekitarnya, yang dikenal dengan “Piagam Madinah”.
626
Pengkhianatan Yahudi dalam perang Ahzab (perang parit) dan berarti melanggar Perjanjian Madinah. Sesuai dengan aturan di dalam kitab Taurat mereka sendiri, mereka harus menerima hukuman dibunuh atau diusir.
638
Di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab ra. Seluruh Palestina dimerdekakan dari penjajah Romawi. Seterusnya seluruh penduduk Palestina, Muslim maupun Non Muslim, hidup aman di bawah pemerintahan khilafah. Kebebasan beragama dijamin sepenuhnya.
700 – 1000
Wilayah Islam meluas dari Asia Tengah, Afrika hingga Spanyol. Di dalamnya, bangsa Yahudi mendapat peluang ekonomi dan intelektual yang sama. Ada beberapa ilmuwan terkenal di dunia Islam yang sesungguhnya adalah orang Yahudi.
1076
Yerusalem dikepung oleh tentara salib dari Eropa. Karena pengkhianatan kaum munafik (sekte Drusiah yang mengaku Islam tetapi ajarannya sesat), pada tahun 1099 M tentara salib berhasil menguasai Yerusalem dan mengangkat seorang raja Kristen. Penjajahan ini berlangsung hingga 1187 M sampai Salahuddin Al-Ayyubi membebaskannya dan setelah itu ummat Islam yang terlena sufisme yang sesat bisa dibangkitkan kembali.
1453
Setelah melalui proses reunifikasi dan revitalisasi wilayah-wilayah khilafah yang tercerai berai setelah hancurnya Baghdad oleh tentara Mongol (1258 M), khilafah Utsmaniah dibawah Muhammad Fatih menaklukan Konstatinopel, dan mewujudkan nubuwwah Rasulullah.
1492
Andalusia sepenuhnya jatuh ke tangan Kristen Spanyol (reconquista). Karena cemas suatu saat umat Islam bisa bangkit lagi, maka terjadi pembunuhan, pengusiran dan pengkristenan massal. Hal ini tidak cuma diarahkan pada Muslim namun juga pada Yahudi. Mereka lari ke wilayah khilafah Utsmaniyah, diantaranya ke Bosnia. Pada 1992 Raja Juan Carlos dari Spanyol secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Israel atas holocaust (pemusnahan etnis) 500 tahun sebelumnya. (Tapi tidak permintaan maaf kepada umat Islam).
Andalusia sepenuhnya jatuh ke tangan Kristen Spanyol (reconquista). Karena cemas suatu saat umat Islam bisa bangkit lagi, maka terjadi pembunuhan, pengusiran dan pengkristenan massal. Hal ini tidak cuma diarahkan pada Muslim namun juga pada Yahudi. Mereka lari ke wilayah khilafah Utsmaniyah, diantaranya ke Bosnia. Pada 1992 Raja Juan Carlos dari Spanyol secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Israel atas holocaust (pemusnahan etnis) 500 tahun sebelumnya. (Tapi tidak permintaan maaf kepada umat Islam).
1500 – 1700
Kebangkitan pemikiran di Eropa, munculnya sekularisme (pemisahan agama / gereja dengan negara), nasionalisme dan kapitalisme. Mulainya kemajuan teknologi moderen di Eropa. Abad penjelajahan samudera dimulai. Mereka mencari jalur perdagangan alternatif ke India dan Cina, tanpa melalui daerah-daerah Islam. Tapi akhirnya mereka didorong oleh semangat kolonialisme dan imperialisme, yakni Gold, Glory dan Gospel. Gold berarti mencari kekayaan di tanah jajahan, Glory artinya mencari kemasyuran di atas bangsa lain dan Gospel (Injil) artinya menyebarkan agama Kristen ke penjuru dunia.
Kebangkitan pemikiran di Eropa, munculnya sekularisme (pemisahan agama / gereja dengan negara), nasionalisme dan kapitalisme. Mulainya kemajuan teknologi moderen di Eropa. Abad penjelajahan samudera dimulai. Mereka mencari jalur perdagangan alternatif ke India dan Cina, tanpa melalui daerah-daerah Islam. Tapi akhirnya mereka didorong oleh semangat kolonialisme dan imperialisme, yakni Gold, Glory dan Gospel. Gold berarti mencari kekayaan di tanah jajahan, Glory artinya mencari kemasyuran di atas bangsa lain dan Gospel (Injil) artinya menyebarkan agama Kristen ke penjuru dunia.
1529
Tentara khilafah berusaha menghentikan arus kolonialisme/imperialisme serta membalas reconquista langsung ke jantung Eropa dengan mengepung Wina, namun gagal. Tahun 1683 M kepungan diulang, dan gagal lagi. Kegagalan ini terutama karena tentara Islam terlalu yakin pada jumlah dan perlengkapannya.
“… yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka
jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan
bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang
dan bercerai-berai.” (QS 9:25).
1798
Napoleon berpendapat bahwa bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Perancis di Timur Tengah. Wilayah itu secara resmi masih di bawah Khilafah.
1831
Untuk mendukung strategi “devide et impera” Perancis mendukung gerakan nasionalisme Arab, yakni Muhammad Ali di Mesir dan Pasya Basyir di Libanon. Khilafah mulai lemah dirongrong oleh semangat nasionalisme yang menular begitu cepat di tanah Arab.
1835
Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, dan lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana. Sponsornya adalah milyuder Yahudi di Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah Khilafah.
1838
Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina.
Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina.
1849
Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964 sudah hampir 3 juta orang.
Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964 sudah hampir 3 juta orang.
1882
Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.
Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.
1891
Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “the sick man at Bosporus). Dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah via Palestina! Sayang, sebelum selesai, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipegaruhi oleh Inggris. Perang Dunia I meletus, dan jalur kereta tersebut dihancurkan.
Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “the sick man at Bosporus). Dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah via Palestina! Sayang, sebelum selesai, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipegaruhi oleh Inggris. Perang Dunia I meletus, dan jalur kereta tersebut dihancurkan.
1897
Theodore Herzl menggelar kongres Zionis sedunia di Basel Swiss. Peserta Kongres I Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia – pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”. Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin ! Di kongres itu, Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada tahun 1948.
1916
Perjanjian rahasia Sykes – Picot oleh sekutu (Inggris, Perancis, Rusia) dibuat saat meletusnya Perang Dunia (PD) I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab dan Khalifah Utsmaniyah dan membagi-bagi di antara mereka. PD I berakhir dengan kemenangan sekutu, Inggris mendapat kontrol atas Palestina. Di PD I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan Sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar).
1917
Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina.
Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina.
1938
Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada PD I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian terakhir” (endivsung). Ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke AS). Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor-kantor berita di dunia.
1944
Partai buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik “membiarkan orang-orang Yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas. Masuknya mereka akan mendorong keluarnya pribumi Arab dari sana.” Kondisi Palestina pun memanas.
1947
PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara: Arab dan Israel.
1948, 14 Mei.
Sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina, para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah, hingga jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dan lain-lain. Palestina Refugees menjadi tema dunia. Namun mereka menolak eksistensi Palestina dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris – lihat Imperialisme Perancis dan Inggris di tanah Arab sejak tahun 1798 – maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.
1948, 2 Desember
Protes keras Liga Arab atas tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Banna mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel. Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri IM bisa melakukan kudeta, akibatnya tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.
1956, 29 Oktober
Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez. Pada kurun waktu ini, militer di Yordania menawarkan baiat ke Hizbut Tahrir (salah satu harakah Islam) untuk mendirikan kembali Khilafah. Namun Hizbut Tahrir menolak, karena melihat rakyat belum siap.
1964
Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestine Liberation Organization). Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina.
Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestine Liberation Organization). Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina.
1967
Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria selama 6 hari dengan dalih pencegahan, Israel berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena dibantu informasi dari CIA (Central Intelligence Agency = Badan Intelijen Pusat milik USA). Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel, karena Menteri Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia ada di udara.
1967, Nopember
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 242, untuk perintah
penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang 6
hari, pengakuan semua negara di kawasan itu, dan penyelesaian secara
adil masalah pengungsi Palestina.
1969
Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua Komite Eksekutif PLO dengan markas di Yordania.
1970
Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini dunia, dan Yordania pun dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari AS, maka akhirnya Raja Husein mengusir markas PLO dari Yordania. Dan akhirnya PLO pindah ke Libanon.
1973, 6 Oktober
Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasanya Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia cuma siap untuk melawan Israel, namun tidak siap berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak. Akibatnya harga minyak melonjak pesat.
Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasanya Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia cuma siap untuk melawan Israel, namun tidak siap berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak. Akibatnya harga minyak melonjak pesat.
1973, 22 Oktober
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi Nomor 338, untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi Nomor 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.
1977
Pertimbangan ekonomi (perang telah memboroskan kas negara) membuat Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena langkah politiknya ini, belakangan Anwar Sadat dibunuh pada tahun 1982.
Pertimbangan ekonomi (perang telah memboroskan kas negara) membuat Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena langkah politiknya ini, belakangan Anwar Sadat dibunuh pada tahun 1982.
1978, September
Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai AS. Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Israel. Sadat dan PM Israel Menachem Begin dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi versi lainnya. Dan AS sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan selalu memveto resolusi PBB yang tidak menguntungkan pihak Israel.
1980
Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota.
1982
Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena – lagi-lagi – veto dari AS. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya dan Tunis.
Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena – lagi-lagi – veto dari AS. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya dan Tunis.
1987
Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.
1988, 15 Nopember
Diumumkan berdirinya negara Palestina di Aljiria, ibu kota Aljazair. Dengan bentuk negara Republik Parlementer. Ditetapkan bahwa Yerussalem Timur sebagai ibukota negara dengan Presiden pertamanya adalah Yasser Arafat.
Setelah Yasser Arafat mangkat kursi presiden diduduki oleh Mahmud
Abbas. Dewan Nasional Palestina, yang identik dengan Parlemen Palestina
beranggotakan 500 orang.
1988, Desember
AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui eksistensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB Nomor 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.
AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui eksistensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB Nomor 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.
1991, Maret
Yasser Arafat menikahi Suha, seorang wanita Kristen. Sebelumnya Arafat selalu mengatakan “menikah dengan revolusi Palestina”.
1993, September
PLO – Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji memberikan hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace” (tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara-negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian.
PLO – Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji memberikan hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace” (tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara-negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian.
Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai
perjanjian dengan Israel, PLO harus mengatasi segala aksi-aksi anti
Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan
Yahudi.
Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.
1995
Rabin dibunuh oleh Yigar Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatik membantai puluhan Muslim yang sedang shalat subuh. Hampir tiap orang dewasa di Israel, laki-laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom “bunuh diri”. Targetnya, menggagalkan usaha perdamaian yang tidak adil itu. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel sebagai “Israel dapat tanah, dan Arab Palestina tidak diganggu (bisa hidup damai).”
1996
Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur waktu pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina, agar Palestina tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel. Ia bahkan ingin menunggu/menciptakan kontelasi baru (pemukiman Yahudi di daerah pendudukan, bila perlu perluasan hingga ke Syria dan Yordania) untuk sama sekali membuat perjanjian baru.
AS tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang
ditetapkannya. Namun karena lobby Yahudi di AS terlalu kuat, maka Bill
Clinton harus memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk
“mengingatkan” si “anak emasnya” ini. Maka sikap negara-negara Arab
tiba-tiba kembali memusuhi Israel. Mufti Mesir malah kini memfatwakan
jihad terhadap Israel. Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan
Perancis) juga mencoba “aktif” menjadi penengah, yang sebenarnya juga
hanya untuk kepentingan masing-masing dalam rangka menanamkan
pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela kalau AS “jalan
sendiri” tanpa bicara dengan Eropa.
2002 – 2008
Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan oleh Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 “reservasi”. Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh “kehadiran sipil dan militer yang permanen” di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan “mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza.” Pemerintah Israel berpendapat bahwa “akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan,” sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel “akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok – artinya, Penghalang Tepi Barat Israel – dan mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini”
Di hari kemenangan Partai Kadima pada pemilu tanggal 28 Maret 2006 di
Israel, Ehud Olmert – yang kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri
Israel menggantikan Ariel Sharon yang berhalangan tetap karena sakit –
berpidato. Dalam pidato kemenangan partainya, Olmert berjanji untuk
menjadikan Israel negara yang adil, kuat, damai, dan makmur, menghargai
hak-hak kaum minoritas, mementingkan pendidikan, kebudayaan dan ilmu
pengetahuan serta terutama sekali berjuang untuk mencapai perdamaian
yang kekal dan pasti dengan bangsa Palestina. Olmert menyatakan bahwa
sebagaimana Israel bersedia berkompromi untuk perdamaian, ia
mengharapkan bangsa Palestina pun harus fleksibel dengan posisi mereka.
Ia menyatakan bahwa bila Otoritas Palestina, yang kini dipimpin Hamas,
menolak mengakui Negara Israel, maka Israel “akan menentukan nasibnya di
tangannya sendiri” dan secara langsung menyiratkan aksi sepihak. Masa
depan pemerintahan koalisi ini sebagian besar tergantung pada niat baik
partai-partai lain untuk bekerja sama dengan perdana menteri yang baru
terpilih.
Sementara itu sebelum terjadinya serangan habis-habisan Israel ke
Gaza (27/12/2008), sudah terjadi serangan-serangan kecil di antara kedua
belah pihak di sekitar Jalur Gaza, disebabkan Israel menutup
tempat-tempat penyeberangan atau jalur komersial ke Gaza sehingga
pasokan bahan bakar minyak terhenti, yang memaksa satu-satunya pusat
pembangkit listrik di Jalur Gaza tutup.
Sebagai catatan akhir, Perdana Menteri Israel setelah Benjamin
Netanyahu berutur-turut adalah Ehud Barak, Ariel Sharon, dan yang masih
berkuasa di Israel dalam penyerangan di Gaza sekarang adalah Ehud
Olmert. Sedangkan 4 faksi utama di Palestina adalah PLO, Al-Fatah, Jihad
Islam Palestina (JIP), dan yang berkuasa sekarang di Palestina adalah
Hamas dengan Perdana Menterinya Ismail Haniya.
Intifada al-Aqsa versi wikipedia.org
- Maret 2000, Kunjungan pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon ke Masjidil Aqsa memicu kerusuhan. Masjidil Aqsa dianggap sebagai salah satu tempat suci umat Islam. Intifadah gelombang kedua pun dimulai.
- KTT Camp David 2000 antara Palestina dan Israel
- Maret-April 2002 Israel membangun Tembok Pertahanan di Tepi Barat dan diiringi rangkaian serangan bunuh diri Palestina.
- Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum internasional dan Israel harus merobohkannya.
- 9 Januari 2005 Mahmud Abbas, dari Fatah, terpilih sebagai Presiden Otoritas Palestina. Ia menggantikan Yasser Arafat yang wafat pada 11 November 2004
- Peta menuju perdamaian
- Juni 2005 Mahmud Abbas dan Ariel Sharon bertemu di Yerusalem. Abbas mengulur jadwal pemilu karena khawatir Hamas akan menang.
- Agustus 2005 Israel hengkang dari permukiman Gaza dan empat wilayah permukiman di Tepi Barat.
- Januari 2006 Hamas memenangkan kursi Dewan Legislatif, menyudahi dominasi Fatah selama 40 tahun.
- Januari-Juli 2008 Ketegangan meningkat di Gaza. Israel memutus suplai listrik dan gas. Dunia menuding Hamas tak berhasil mengendalikan tindak kekerasan. PM Palestina Ismail Haniyeh berkeras pihaknya tak akan tunduk.
- November 2008 Hamas batal ikut serta dalam pertemuan unifikasi Palestina yang diadakan di Kairo, Mesir. Serangan roket kecil berjatuhan di wilayah Israel.
- Serangan Israel ke Gaza dimulai 26 Desember 2008. Israel melancarkan Operasi Oferet Yetsuka, yang dilanjutkan dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas. Korban dari warga sipil berjatuhan.
- Mei 2010 Israel mem-blokede seluruh jalur bantuan menuju palestina
- 30 Mei 2010 Tentara Israel Menembaki kapal bantuan Mavi Marmara yang membawa ratusan Relawan dan belasan ton bantuan untuk palestina
Tarik ulur usaha perdamaian mutakhir
Sejak Persetujuan Oslo,
Pemerintah Israel dan Otoritas Nasional Palestina secara resmi telah
bertekad untuk akhirnya tiba pada solusi dua negara. Masalah-masalah
utama yang tidak terpecahkan di antara kedua pemerintah ini adalah:
- Status dan masa depan Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur yang mencakup wilayah-wilayah dari Negara Palestina yang diusulkan.
- Keamanan Israel.
- Keamanan Palestina.
- Hakikat masa depan negara Palestina.
- Nasib para pengungsi Palestina.
- Kebijakan-kebijakan pemukiman pemerintah Israel, dan nasib para penduduk pemukiman itu.
- Kedaulatan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk Bukit Bait Suci dan kompleks Tembok (Ratapan) Barat.
Masalah pengungsi muncul sebagai akibat dari perang Arab-Israel 1948.
Masalah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur muncul sebagai
akibat dari Perang Enam Haripada 1967.
Selama ini telah terjadi konflik yang penuh kekerasan, dengan
berbagai tingkat intensitasnya dan konflik gagasan, tujuan, dan
prinsip-prinsip yang berada di balik semuanya. Pada kedua belah pihak,
pada berbagai kesempatan, telah muncul kelompok-kelompok yang berbeda
pendapat dalam berbagai tingkatannya tentang penganjuran atau penggunaan
taktik-taktik kekerasan, anti kekerasan yang aktif, dll. Ada pula
orang-orang yang bersimpati dengan tujuan-tujuan dari pihak yang satu
atau yang lainnya, walaupun itu tidak berarti mereka merangkul
taktik-taktik yang telah digunakan demi tujuan-tujuan itu. Lebih jauh,
ada pula orang-orang yang merangkul sekurang-kurangnya sebagian dari
tujuan-tujuan dari kedua belah pihak. Dan menyebutkan “kedua belah”
pihak itu sendiri adalah suatu penyederhanaan: Al-Fatah dan Hamas saling
berbeda pendapat tentang tujuan-tujuan bagi bangsa Palestina. Hal yang
sama dapat digunakan tentang berbagai partai politik Israel, meskipun
misalnya pembicaraannya dibatasi pada partai-partai Yahudi Israel.
Mengingat pembatasan-pembatasan di atas, setiap gambaran ringkas
mengenai sifat konflik ini pasti akan sangat sepihak. Itu berarti,
mereka yang menganjurkan perlawanan Palestina dengan kekerasan biasanya
membenarkannya sebagai perlawanan yang sah terhadap pendudukan
militer oleh bangsa Israel yang tidak sah atas Palestina, yang didukung
oleh bantuan militer dan diplomatik oleh A.S. Banyak yang cenderung
memandang perlawanan bersenjata Palestina di lingkungan Tepi Barat dan
Jalur Gaza sebagai hak yang diberikan oleh persetujuan Jenewa dan Piagam
PBB. Sebagian memperluas pandangan ini untuk membenarkan
serangan-serangan, yang seringkali dilakukan terhadap warga sipil, di
wilayah Israel itu sendiri.
Demikian pula, mereka yang bersimpati dengan aksi militer Israel dan
langkah-langkah Israel lainnya dalam menghadapi bangsa Palestina
cenderung memandang tindakan-tindakan ini sebagai pembelaan diri yang
sah oleh bangsa Israsel dalam melawan kampanye terorisme yang dilakukan
oleh kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas, Jihad Islami, Al
Fatah dan lain-lainnya, dan didukung oleh negara-negara lain di wilayah
itu dan oleh kebanyakan bangsa Palestina, sekurang-kurangnya oleh warga
Palestina yang bukan merupakan warga negara Israel. Banyak yang
cenderung percaya bahwa Israel perlu menguasai sebagian atau seluruh
wilayah ini demi keamanannya sendiri. Pandangan-pandangan yang sangat
berbeda mengenai keabsahan dari tindakan-tindakan dari masing-masing
pihak di dalam konflik ini telah menjadi penghalang utama bagi
pemecahannya.
Sebuah usul perdamaian yang muncul adalah peta menuju perdamaian yang
diajukan oleh Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika
Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu
namun dengan 14 “reservasi”. Pada saat ini Israel sedang menerapkan
sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh
Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS,
Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh “kehadiran sipil
dan militer… yang permanen” di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di
sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan “mengawasi dan mengawal
kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol
eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan
militer di wilayah laut dari Jalur Gaza.” Pemerintah Israel berpendapat
bahwa “akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza
adalah wilayah pendudukan,” sementara yang lainnya berpendapat bahwa,
apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa
Israel “akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok [artinya, Penghalang
Tepi Barat Israel] dan mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti
adanya sekarang ini”
Dengan rencana pemisahan diri sepihak, pemerintah Israel menyatakan
bahwa rencananya adalah mengizinkan bangsa Palestina untuk membangun
sebuah tanah air dengan campur tangan Israel yang minimal, sementara
menarik Israel dari situasi yang diyakininya terlalu mahal dan secara
strategis tidak layak dipertahankan dalam jangka panjang. Banyak orang
Israel, termasuk sejumlah besar anggota partai Likud — hingga beberapa
minggu sebelum 2005 berakhir merupakan partai Sharon — kuatir bahwa
kurangnya kehadiran militer di Jalur Gaza akan mengakibatkan
meningkatnya kegiatan penembakan roket ke kota-kota Israel di sekitar
Gaza. Secara khusus muncul keprihatinan terhadap kelompok-kelompok
militan Palestina seperti Hamas, Jihad Islami atau Front Rakyat
Pembebasan Palestina akan muncul dari kevakuman kekuasaan apabila Israel
memisahkan diri dari Gaza.
http://simomot.com/2014/07/14/sejarah-dan-latar-belakang-konflik-israel-palestina-dari-2000sm-sampai-sekarang/
Langganan:
Postingan (Atom)

